Skema offset dalam pengadaan alutsista, seperti pada program kapal perang Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) dari Italia, harus diarahkan secara strategis untuk mengakuisisi teknologi kritis yang dapat dihilirisasi. Pengamat pertahanan Alman Helvas Ali dari Marapi Consulting menegaskan bahwa offset bukan sekadar kewajiban kontraktual, melainkan tahapan esensial dalam mentransformasi pola akuisisi dari pembelian pasif menjadi penguasaan kemampuan desain dan produksi indigenous. Fokus utama harus bergeser dari fabrikasi struktur kapal ke penguasaan teknologi sistem integrasi dan simulator – dua area yang menjadi tulang punggung kapabilitas tempur modern.
Mengukur Keberhasilan Offset: Dari TKDN ke Intellectual Property
Agar skema offset benar-benar mendorong kemandirian, nilai kerjasama harus diukur melalui metrik yang lebih dalam dari sekadar presentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Target utama meliputi peningkatan kapabilitas sumber daya manusia dalam bidang engineering system integration, software-defined systems, dan manajemen proyek kompleks. Pendekatan ini membutuhkan blue-print teknologi yang jelas sejak fase perencanaan, dengan target penguasaan intellectual property (IP) tertentu yang dapat disubstitusikan pada platform berikutnya.
- Peningkatan kapasitas reverse-engineering yang terarah untuk komponen kritis.
- Alih teknologi pada sub-sistem seperti sensor, sonar, dan sistem kendali tembak.
- Penguasaan rantai pasok material strategis untuk mengurangi ketergantungan impor.
Peran KKIP dalam Merancang Metriks Offset Berbasis Inovasi
Ke depan, institusi seperti Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) perlu merancang indikator kinerja teknologi yang konkret untuk mengevaluasi setiap skema transfer teknologi. Metriks tersebut harus mencakup jumlah paten yang dihasilkan, peningkatan kapasitas produksi komponen kritis, dan penguasaan rantai pasok material strategis. Tanpa kerangka metrik yang ketat, risiko offset hanya menjadi seremoni administratif tanpa dampak nyata pada kemandirian industri pertahanan sangat besar.
- Jumlah paten terkait sistem integrasi dan perangkat lunak pertahanan.
- Peningkatan kapasitas produksi komponen kritis seperti radar dan sistem propulsi.
- Penguasaan rantai pasok material strategis (misal: serat karbon, paduan titanium).
Transformasi dari pola 'buy' menjadi 'buy and make' melalui offset yang terstruktur akan mempercepat tercapainya technological leapfrogging dalam ekosistem industri pertahanan nasional. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah mulai menyusun peta jalan (roadmap) penguasaan teknologi kritis yang terintegrasi dengan rencana pengadaan alutsista jangka panjang. Dengan demikian, setiap kontrak pembelian tidak hanya memperkuat postur pertahanan, tetapi juga menjadi katalis bagi lompatan teknologi yang mengurangi technological gap dengan negara produsen utama.