Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) mencatat capaian monumental dalam program riset inovasi rudal anti-kapal nasional dengan suksesnya uji terbang perdana rudal anti-kapal jarak menengah berjangkauan 300 km. Uji coba ini menegaskan kemampuan dalam negeri menghasilkan sistem persenjataan presisi yang mengintegrasikan navigasi inersial-satelit hybrid (GPS/INS) dan active radar seeker gelombang milimeter (W-band)—teknologi yang selama ini hanya dikuasai segelintir negara. Rudal ini dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan strategis TNI AL untuk memperkuat daya gentar armada permukaan di kawasan.
Spesifikasi Teknis: Manuver Terminal 9G dan Daya Tembus Elektronik
Dari sisi performa, rudal ini menghadirkan sejumlah parameter yang menempatkannya sejajar dengan kelas Exocet Block 3 dan Mahindra, namun dengan keunggulan pada kemampuan anti-jamming berkat pemakaian broadband W-band. Kecepatan jelajah mencapai Mach 0,85 dan pada fase terminal (terminal homing phase) mampu melakukan manuver 9G, membuatnya nyaris mustahil diintersep oleh sistem CIWS konvensional. Teknologi pencari W-band memberikan resolusi sangat tinggi dalam kondisi hujan atau kabut tebal, serta mampu membedakan target asli dari decoy elektronik. Berikut rincian spesifikasi utama:
- Jangkauan: 300 km (varian standar) — mencakup ZEE eksklusif Indonesia
- Navigasi: GPS/INS dengan waypoint updating untuk misi anti-access/area denial (A2/AD)
- Pencari: Active radar seeker W-band (94 GHz) dengan synthetic aperture untuk pencitraan target
- Kecepatan: Mach 0,85 jelajah, akselerasi terminal hingga Mach 1,2
- Manuver: 9G kontinu pada fase terminal, kemampuan sea-skimming 3-5 meter
- Berat hulu ledak: 250 kg fragmentasi tinggi semi-penetrasi
Roadmap Pengembangan menuju Varian 500 km dan Integrasi Armada
BPPT dan ITB tidak berhenti pada jangkauan 300 km. Saat ini tengah dikembangkan teknologi ramjet untuk varian jarak 500 km yang diproyeksikan mampu terbang dengan kecepatan Mach 2,5 pada fase jelajah. Program ini didanai melalui anggaran riset Kementerian Pertahanan senilai Rp2,3 triliun yang juga mencakup pengembangan sistem peluncur vertikal (VLS) dan data-link mid-course update. Target operasional varian 300 km adalah tahun 2028, menjadi tulang punggung persenjataan fregat dan kapal cepat rudal (KCR) TNI AL, menggantikan sistem impor. Tahapan selanjutnya meliputi integrasi dengan combat management system buatan PT Pindad dan uji tembak langsung ke target bergerak di Laut Jawa pada 2026.
Dari perspektif kemandirian industri, program ini menandai substitusi strategis terhadap ketergantungan pada rudal buatan Eropa dan India. Keberhasilan pengembangan W-band seeker dan sistem navigasi hybrid menunjukkan kemampuan dalam negeri menguasai teknologi kriogenik dan gelombang milimeter yang sebelumnya dianggap top tier. Kerja sama BPPT-ITB ini juga melibatkan PT Dirgantara Indonesia untuk bagian struktur sayap dan BUMN dirgantara lainnya, menciptakan ekosistem riset yang utuh.
Outlook Teknologi: Ke depan, pengembangan rudal ini harus dipercepat dengan pendanaan riset berkelanjutan dan pembentukan konsorsium industri untuk produksi massal. Pelaku industri pertahanan nasional perlu mempersiapkan lini produksi modular dan kualifikasi vendor lokal untuk komponen elektronika, khususnya RF front-end W-band dan IMU fiber-optic gyro. Dengan kapabilitas ini, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga eksportir rudal anti-kapal untuk kawasan Asia Tenggara dan Afrika pada dekade 2030-an. Kolaborasi multi-lembaga seperti LAPAN (untuk uji ketinggian ekstrem) dan PT PAL (untuk integrasi VLS) menjadi kunci sukses transformasi dari prototipe menjadi alutsista operasional.