READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

BPPT Kembangkan Material Termal untuk Alutsista Berbasis Grafena, Target Substitusi Impor 2028

BPPT Kembangkan Material Termal untuk Alutsista Berbasis Grafena, Target Substitusi Impor 2028

BPPT mengembangkan material termal berbasis grafena yang 10 kali lebih konduktif dari tembaga dan 50% lebih ringan, dengan target substitusi impor 70% pada 2028. Material ini diaplikasikan pada sistem pendingin radar, heat sink kendaraan tempur, dan pelindung termal rudal melalui kolaborasi dengan PT DI dan PT Pindad. Inovasi ini menandai langkah strategis menuju kemandirian industri pertahanan nasional.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) resmi mengumumkan pengembangan material termal berbasis grafena untuk aplikasi alutsista pada 15 Agustus 2026. Inovasi ini menandai lompatan strategis dalam upaya mengurangi ketergantungan impor material canggih, dengan target substitusi impor sebesar 70% pada 2028. Material termal berbasis grafena ini mampu menghantarkan panas 10 kali lebih baik dari tembaga—material konvensional yang selama ini dominan—serta memiliki bobot 50% lebih ringan. Keunggulan ini memungkinkan integrasi sistem termal yang lebih efisien pada platform pertahanan nasional, mulai dari sistem pendingin radar, heat sink pada kendaraan tempur, hingga pelindung termal pada rudal. Proyek ini didanai oleh Kementerian Riset dan Teknologi dengan anggaran Rp 150 miliar, menunjukkan komitmen pemerintah terhadap kemandirian industri pertahanan melalui pemanfaatan material advenced.

Spesifikasi Teknis dan Aplikasi pada Platform Pertahanan

Material termal berbasis grafena yang dikembangkan BPPT memiliki sejumlah parameter teknis yang unggul dibandingkan material konvensional. Berikut adalah rincian spesifikasi dan aplikasi utama:

  • Konduktivitas termal: 10 kali lipat dari tembaga (sekitar 4.000 W/mK vs 400 W/mK tembaga), memungkinkan disipasi panas yang lebih cepat pada komponen elektronik alutsista.
  • Bobot ringan: 50% lebih ringan dari tembaga, mengurangi beban pada platform seperti kendaraan tempur atau drone.
  • Aplikasi pada sistem pendingin radar: Mengurangi risiko overheating pada radar aktif array (AESA) yang memproduksi panas tinggi saat operasi.
  • Heat sink kendaraan tempur: Meningkatkan ketahanan termal pada sistem propulsi dan elektronik tempur, terutama di lingkungan tropis Indonesia.
  • Pelindung termal rudal: Melindungi hulu ledak dan sistem navigasi dari gradien suhu ekstrem saat meluncur dengan kecepatan hipersonik.

Kolaborasi dengan PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad sudah dimulai untuk uji coba material pada prototipe alutsista, seperti sistem pendingin rudal anti-kapal dan heat sink kendaraan tempur lapis baja. Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa Indonesia masih mengimpor 90% material termal canggih untuk alutsista, menjadikan proyek ini sebagai terobosan kritis dalam rantai pasok pertahanan nasional.

Dampak Strategis dan Target Substitusi Impor

Pengembangan material grafena oleh BPPT tidak hanya berdampak pada performa termal, tetapi juga pada kemandirian industri pertahanan. Dengan target substitusi impor material termal sebesar 70% pada 2028, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan pada pemasok luar negeri, sekaligus menghemat devisa yang selama ini habis untuk impor. Anggaran Rp 150 miliar yang dialokasikan diyakini akan menghasilkan lisensi produksi yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan pertahanan dalam negeri. Uji coba pada radar dan kendaraan tempur akan menjadi langkah awal, dengan rencana komersialisasi pada 2029. Material ini juga membuka peluang untuk aplikasi di luar alutsista, seperti pada satelit atau sistem energi tinggi, memperluas dampak inovasi ini terhadap ekosistem industri pertahanan nasional.

Ke depannya, pelaku industri pertahanan nasional perlu segera mengadopsi material termal berbasis grafena ini dalam desain alutsista generasi berikutnya. Rekomendasi strategis: Percepatan sertifikasi material melalui Badan Standardisasi Nasional dan TNI, serta investasi pada fasilitas produksi dalam negeri untuk memastikan ketersediaan pasokan. Penguasaan teknologi grafena akan menjadi kunci untuk mencapai efisiensi sistem persenjataan yang lebih tinggi, sekaligus memperkokoh daya saing Indonesia di kancah global.

grafena material termal alutsista BPPT substitusi impor
ENTITAS TERKAIT
Topik: Material Termal Grafena, Alutsista, Substitusi Impor
Organisasi: BPPT, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad
Lokasi: Indonesia
ARTIKEL TERKAIT