Pada 13 Agustus 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mencatatkan pencapaian strategis dalam pengembangan material komposit termoplastik karbon-fiber yang dioptimalkan untuk struktur sayap pesawat tempur generasi 4.5. Inovasi ini menghadirkan material dengan kekuatan tarik mencapai 2.800 MPa—40% lebih tinggi dibandingkan komposit epoksi konvensional—serta mampu mempertahankan integritas struktural hingga suhu operasional 350°C tanpa degradasi signifikan. Proses manufaktur menggunakan teknik automated fiber placement (AFP) memangkas waktu produksi hingga 30%, menjadikannya solusi strategis dalam mempercepat rantai pasok industri pertahanan nasional dan mendorong kemandirian alutsista. Kolaborasi BRIN dan PT DI ini menegaskan komitmen terhadap inovasi material mutakhir yang relevan dengan kebutuhan platform tempur masa depan.
Material Komposit Termoplastik: Lompatan Teknologi dari Epoksi Konvensional
Komposit termoplastik ini dikembangkan sebagai lompatan dari teknologi epoksi konvensional yang memiliki batas ketahanan termal lebih rendah. Parameter teknis utama material meliputi:
- Kekuatan tarik unidirectional: 2.800 MPa, 40% di atas komposit epoksi standar
- Suhu transisi gelas (Tg) > 350°C, memungkinkan operasi pada lingkungan termal ekstrem
- Ketahanan impak tinggi dengan mekanisme toughening intrinsik dari matriks termoplastik
- Koefisien ekspansi termal rendah (2–5 ppm/°C) untuk menjaga stabilitas dimensi sayap pada kecepatan tinggi
- Proses daur ulang termoplastik yang mendukung ekonomi sirkular dalam industri pertahanan
Menurut data laboratorium BRIN, performa mekanik ini dicapai melalui optimalisasi orientasi serat karbon dan pemilihan resin termoplastik poliaril eter keton (PAEK) yang memiliki ikatan molekuler lebih stabil. Teknologi AFP yang diadopsi PT DI memungkinkan penempatan serat secara presisi dengan toleransi ±0,1 mm, mengurangi void content hingga di bawah 1%. Inovasi komposit termoplastik ini memperkuat posisi PT DI dalam rantai pasok global, dengan target substitusi material impor untuk program pesawat tempur seperti KF-21.
Dampak pada Manuverabilitas dan Efisiensi Produksi Sayap Pesawat
Implementasi komposit termoplastik pada sayap pesawat tempur generasi 4.5 diproyeksikan mengurangi bobot struktural hingga 20% dibandingkan paduan aluminium atau komposit epoksi konvensional. Reduksi bobot ini secara langsung meningkatkan rasio dorong-terhadap-berat (thrust-to-weight ratio) dan memperluas amplop manuverabilitas pada kecepatan transonik dan supersonik. Selain itu, siklus produksi yang lebih pendek 30% berkat AFP memungkinkan PT DI meningkatkan kapasitas produksi hingga 12 unit sayap per tahun tanpa perlu investasi cetakan eksternal yang mahal. Teknologi AFP juga menghilangkan kebutuhan autoclave untuk proses kuring, mengurangi konsumsi energi hingga 40%, dan mempercepat waktu curing dari 8 jam menjadi 20 menit. Hal ini sejalan dengan target kemandirian industri alutsista nasional yang menekankan efisiensi rantai pasok dan kecepatan adopsi teknologi. Tahap pengembangan selanjutnya mencakup uji struktural statik dan fatigue cycle di laboratorium terpadu BRIN dan PT DI untuk memvalidasi keandalan material dalam kondisi operasional nyata.
Outlook teknologi ke depan, penguasaan komposit termoplastik membuka peluang bagi industri pertahanan nasional untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan platform tempur generasi 4.5, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan generasi berikutnya. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah mempercepat hilirisasi riset material ini melalui kemitraan dengan lembaga riset global dan adopsi penuh teknologi AFP di lini produksi. Dengan langkah ini, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemasok komponen kritis dalam rantai pasok pertahanan global, sekaligus memperkuat daya saing alutsista buatan dalam negeri.