Pada 11 Oktober 2026, pemerintah Indonesia melalui Dewan Pertahanan Nasional resmi menandatangani perjanjian transfer teknologi penuh (full ToT) dengan Korea Selatan untuk sistem rudal balistik taktis C-705 serta radar AESA (Active Electronically Scanned Array) X-band. Kesepakatan ini menandai lompatan kuantum dalam upaya kemandirian alutsista nasional, mengingat kedua platform tersebut merupakan tulang punggung pertahanan multidomain modern. Rudal C-705 mampu menjangkau target darat dan laut hingga 290 km dengan hulu ledak 450 kg, serta dirancang untuk diintegrasikan pada platform bergerak dan kapal perang. Sementara itu, radar AESA yang akan diproduksi di bawah lisensi oleh PT LEN Industri menawarkan kemampuan deteksi pesawat tempur siluman pada jarak 350 km — menggantikan ketergantungan pada pemasok Eropa dan Amerika Serikat.
Spesifikasi Teknis Rudal C-705 dan Radar AESA X-band
Rudal balistik taktis C-705 merupakan generasi terbaru dari keluarga senjata presisi jarak menengah. Berdasarkan data yang disepakati dalam perjanjian, berikut adalah spesifikasi utama sistem ini:
- Jangkauan operasional: 290 km — mencakup area strategis di wilayah yurisdiksi Indonesia.
- Hulu ledak: 450 kg fragmentasi tinggi, mampu menetralisir infrastruktur pertahanan dan target bernilai tinggi.
- Platform peluncur: mobile (kendaraan taktis) dan kapal permukaan, memberikan fleksibilitas penempatan.
- Sistem bimbingan: inersial dengan koreksi GNSS, menjamin akurasi circular error probable (CEP) di bawah 10 meter.
Radar AESA X-band yang menjadi bagian dari kerja sama ini mengusung teknologi beamforming digital dan pemrosesan sinyal berbasis kecerdasan buatan. Dengan kemampuan deteksi pesawat siluman pada 350 km, radar ini mampu melacak hingga 200 target secara simultan. Produksi perdana dijadwalkan pada 2028 di fasilitas PT Pindado dan PT LEN, dengan target kandungan lokal mencapai 70% pada tahap awal.
Implikasi Strategis bagi Ekosistem Industri Pertahanan Nasional
Perjanjian ini tidak hanya sebatas akuisisi teknologi, tetapi mencakup pendirian pusat riset bersama di kawasan Puspiptek Serpong serta pelatihan personel secara mendalam. Skema transfer teknologi penuh memungkinkan Indonesia untuk melakukan rekayasa ulang, modifikasi, dan pengembangan varian baru rudal serta radar secara mandiri. Selain itu, terdapat klausul ekspor komponen ke negara ketiga, yang membuka peluang Indonesia menjadi hub manufaktur alutsista di kawasan Asia-Pasifik. Bagi PT LEN Industri dan PT Pindado, ini adalah kesempatan untuk membangun ekosistem manufaktur radar dan rudal yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.
Dampak strategis lainnya adalah pengurangan ketergantungan pada pemasok tradisional Eropa dan AS. Dengan memperoleh akses ke teknologi AESA generasi terbaru, Indonesia dapat memperkuat sistem pertahanan udara nasional dan meningkatkan interoperabilitas dengan platform tempur yang sudah ada. Sementara itu, rudal C-705 memberikan kemampuan pencegahan (deterrence) yang kredibel terhadap ancaman asimetris, baik di darat maupun di laut.
Ke depan, keberhasilan program ini akan bergantung pada komitmen pendanaan berkelanjutan dari APBN serta penguatan sumber daya manusia di bidang teknologi radar dan rudal. Rekomendasi bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah segera membentuk konsorsium riset dengan perguruan tinggi dan mempercepat proses sertifikasi komponen lokal agar target produksi 2028 tercapai. Dengan fondasi kerja sama pertahanan yang solid, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dalam rantai pasok rudal balistik taktis dan radar AESA di kawasan Indo-Pasifik.