Kementerian Pertahanan bersama Badan Kebijakan Industri Pertahanan (BKP) dan Kementerian Perindustrian menetapkan target ambisius substitusi impor alutsista hingga 80% pada tahun 2028, dengan fokus strategis pada dua pilar teknologi kritis: sistem avionik dan sistem propulsi. Saat ini, tingkat kemandirian industri pertahanan nasional mencapai 42%—meningkat 12% dari capaian tahun 2025—dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp45 triliun per tahun apabila target tercapai. Langkah ini menjadi fondasi transformasi menuju kemandirian penuh di sektor pertahanan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terhadap embargo.
Avionik Nasional: Menggantikan Mil-Spec AS dengan Inovasi FPGA Lokal
Sektor avionik menjadi prioritas utama dalam program substitusi impor, dengan rencana penggantian spesifikasi militer AS (mil-spec) oleh produk buatan PT Len Industri dan PT Dirgantara Indonesia. Teknologi avionik lokal dirancang untuk memenuhi standar interoperabilitas dengan platform pesawat tempur dan helikopter TNI, serta memperkuat ketahanan rantai pasok nasional. Roadmap pengembangan meliputi:
- Pengembangan modul navigasi inersia dan sistem komunikasi taktis terintegrasi berbasis FPGA buatan dalam negeri.
- Integrasi avionik dengan sistem senjata dan radar AESA yang telah dikembangkan oleh PT Len dan konsorsium riset nasional.
- Sertifikasi militer melalui lembaga uji dalam negeri untuk mempercepat adopsi operasional.
Propulsi Mandiri: Mesin Diesel 2.000 Hp untuk Platform Tempur Multiguna
Sektor propulsi menjadi pilar kedua yang mendapat perhatian serius. PT PAL Indonesia dan PT Pindad memimpin pengembangan mesin diesel berdaya 2.000 horsepower untuk kendaraan tempur lapis baja dan kapal perang. Teknologi ini mengadopsi konsep modular yang memungkinkan adaptasi daya sesuai kebutuhan platform, mulai dari tank medium hingga korvet. Pengembangan mencakup:
- Rancangan blok mesin alumunium alloy untuk rasio power-to-weight optimal serta sistem injeksi common-rail dengan tekanan 2.400 bar.
- Uji ketahanan termal dan getaran di fasilitas engine test bed PT PAL di Surabaya pada kuartal III 2027.
- Integrasi dengan sistem transmisi otomatis buatan PT Pindad yang telah lulus uji durability 10.000 jam operasi.
Selain itu, investasi strategis pabrik semikonduktor militer di Batam ditargetkan beroperasi pada 2027, yang akan memasok chip power management dan sensor MEMS untuk sistem propulsi dan avionik. Langkah ini diharapkan memperkuat rantai pasok komponen elektronika pertahanan yang selama ini 85% masih diimpor. Keberhasilan program substitusi impor 80% pada 2028 bukan hanya sekadar angka, melainkan momentum untuk membangun ekosistem produksi alutsista yang resilien dan berdaya saing global. Rekomendasi strategis ke depan adalah percepatan alih teknologi melalui skema offset yang mewajibkan mitra asing mentransfer kemampuan produksi komponen kritis, serta penguatan kolaborasi antara BKP, Kementerian Pertahanan, dan industri kecil menengah di sektor komponen untuk memastikan kemandirian berkelanjutan.