READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
STRATEGI KEMANDIRIAN TRENDING

Kemenhan Tandatangani Kontrak Pengadaan Drone Tempur CH-7B dengan BUMN Dirgantara

Kemenhan Tandatangani Kontrak Pengadaan Drone Tempur CH-7B dengan BUMN Dirgantara

Kemenhan menandatangani kontrak pengadaan 12 unit drone tempur CH-7B senilai Rp 1,2 triliun dari BUMN Dirgantara, PT DI, dengan kemampuan stealth dan sensor EO/IR terintegrasi. Pengadaan ini menegaskan komitmen kemandirian industri pertahanan melalui TKDN 70 persen dan rencana operasional pada 2028 untuk pengawasan perbatasan maritim.

Kementerian Pertahanan RI resmi menandatangani kontrak pengadaan 12 unit drone tempur CH-7B yang diproduksi oleh BUMN Dirgantara, PT Dirgantara Indonesia (DI), dengan nilai kontrak mencapai Rp 1,2 triliun. Langkah ini menegaskan akselerasi kemandirian industri pertahanan nasional, sekaligus menempatkan CH-7B sebagai aset pengintai dan penyerang presisi berteknologi stealth yang akan memperkuat lini pertahanan udara Indonesia. Kontrak ini bukan sekadar akuisisi alutsista, melainkan fondasi transfer teknologi dan penguatan rantai pasok industri pertahanan dalam negeri.

Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Strategis CH-7B

CH-7B dirancang dengan konfigurasi flying wing yang mengadopsi teknologi siluman (stealth), menjadikannya sulit dideteksi radar musuh. Dengan kecepatan jelajah 220 knot dan daya angkut kargo hingga 2 ton, platform ini mampu membawa berbagai muatan misi, mulai dari pod pengintaian, sistem elektronik, hingga amunisi berpemandu presisi. Integrasi avionik dan sensor EO/IR buatan Elbit Systems dengan komunikasi satelit militer Indonesia memungkinkan kendali jarak jauh dan transmisi data real-time di medan operasi yang luas.

  • Konfigurasi siluman (stealth) untuk mengurangi penampang radar (RCS) pada frekuensi tinggi dan menengah.
  • Kecepatan jelajah 220 knot dengan daya jelajah yang optimal untuk patroli perbatasan maritim.
  • Daya angkut kargo 2 ton yang fleksibel untuk misi intai, serangan presisi, atau perang elektronik.
  • Integrasi sensor EO/IR dan tautan data satelit buatan Elbit Systems untuk ketahanan sinyal dan kesadaran situasional tingkat lanjut.

Strategi Kemandirian Industri: TKDN 70 Persen dan Transfer Teknologi

Pengadaan ini merupakan bagian dari rencana induk pertahanan yang menekankan pada partisipasi aktif BUMN strategis. PT DI akan memproduksi sebanyak 70 persen komponen CH-7B secara mandiri, dengan dukungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Hal ini tidak hanya menekan biaya logistik jangka panjang, tetapi juga menciptakan ekosistem industri pertahanan yang berkelanjutan di Indonesia. Proses produksi akan melibatkan laboratorium avionik, fasilitas komposit, serta uji terbang di dalam negeri, sehingga mempercepat alih teknologi dan peningkatan kapabilitas SDM.

Sebagai bagian dari strategi penguatan, batch pertama CH-7B akan diujicobakan dengan teknologi artificial intelligence (AI) untuk pengenalan target otomatis dan kemampuan swarm (gerombolan). Integrasi AI ini menjadi kunci dalam menghadapi peperangan modern yang menuntut respons cepat dan adaptif. Drone tempur CH-7B dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2028 di Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Kalimantan Barat, sebagai basis pengawasan perbatasan maritim yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Dengan dimulainya produksi 12 unit ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari sedikit negara di Asia Tenggara yang memiliki kemampuan mengembangkan dan memproduksi UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) secara mandiri. Kapasitas produksi PT DI yang mencapai 24 unit per tahun akan memungkinkan pemenuhan kebutuhan internal sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara sahabat yang membutuhkan platform sejenis.

Bagi pelaku industri pertahanan nasional, pengadaan drone tempur CH-7B ini adalah momentum untuk memperkuat kolaborasi riset, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas partisipasi UMKM dalam rantai pasok komponen. Ke depan, pengembangan varian CH-7B dengan kemampuan MALE (Medium Altitude Long Endurance) atau persenjataan yang lebih berat akan semakin memperkokoh posisi Indonesia di peta industri dirgantara global. Keberhasilan program ini akan menjadi tolak ukur nyata kemandirian alutsista dalam negeri yang berdaya saing dan adaptif terhadap dinamika teknologi militer masa depan.

drone tempur|CH-7B|BUMN Dirgantara|pengadaan
ENTITAS TERKAIT
Topik: pengadaan drone tempur, kemandirian industri pertahanan, teknologi AI
Organisasi: Kementerian Pertahanan RI, PT Dirgantara Indonesia, Elbit Systems, TNI AU
Lokasi: Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Indonesia
ARTIKEL TERKAIT