READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
STRATEGI KEMANDIRIAN TRENDING

Kemenhan Tandatangani Kontrak Produksi Massal Rudal Anti-Kapal 'Exocet-NAS' bersama PT Dirgantara Indonesia

Kemenhan Tandatangani Kontrak Produksi Massal Rudal Anti-Kapal 'Exocet-NAS' bersama PT Dirgantara Indonesia

Kontrak produksi massal rudal anti-kapal Exocet-NAS senilai Rp5,7 triliun yang ditandatangani Kemenhan bersama PT Dirgantara Indonesia menandai lompatan besar dalam kemandirian alutsista, dengan integrasi sistem navigasi inersia dan pencitraan inframerah lokal. Rudal berkecepatan Mach 0,9 dan jangkauan 200 km ini akan memperkuat TNI AL serta membuka peluang ekspor, dengan target TKDN 60% pada 2028. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi ekosistem industri rudal nasional yang kompetitif di tingkat global.

Pada 27 Agustus 2026, Kementerian Pertahanan RI melalui Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) resmi menandatangani kontrak produksi massal rudal anti-kapal Exocet-NAS bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Kontrak senilai Rp5,7 triliun ini menandai tonggak penting dalam kemandirian industri alutsista nasional, dengan target produksi 120 unit rudal yang akan memperkuat armada TNI AL dan membuka peluang ekspor ke negara sahabat. Rudal yang dikembangkan dari platform MBDA Exocet MM40 Block 3 ini mengintegrasikan sistem navigasi inersia dan pencitraan inframerah buatan dalam negeri, memberikan kemampuan penetrasi dan akurasi yang lebih tinggi dalam skenario peperangan maritim modern.

Spesifikasi Teknis dan Inovasi Lokal pada Rudal Anti-Kapal Exocet-NAS

Exocet-NAS hadir sebagai solusi pertahanan anti-akses area denial (A2/AD) generasi terbaru, dirancang untuk menghadapi ancaman permukaan laut dengan kecepatan jelajah Mach 0,9 dan jangkauan tembak hingga 200 kilometer. Integrasi sistem navigasi inersia (INS) dan pencitraan inframerah (IIR) lokal meningkatkan kemampuan terminal homing, memungkinkan rudal membedakan sasaran asli dari umpan elektronik. Berikut adalah spesifikasi teknis utama rudal ini:

  • Kecepatan: Mach 0,9 (subsonik high-end) dengan profil terbang sea-skimming untuk menghindari radar musuh
  • Jarak Tembak: 200 km, memungkinkan penyerangan di luar cakrawala (OTH) tanpa eksposur kapal induk
  • Sistem Pemandu: INS + IIR dengan kemampuan fire-and-forget dan koreksi lintasan data-link
  • Hulu Ledak: 165 kg fragmentasi tinggi, dioptimalkan untuk menembus lambung kapal perusak dan fregat
  • Platform Integrasi: Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) kelas Martadinata dan pesawat tempur F-16V melalui pod adaptor
  • TKDN Target: 60% pada 2028, mencakup sistem navigasi, pencitraan, dan komponen struktural

PT Dirgantara Indonesia bertindak sebagai integrator utama yang menggabungkan sistem hulu ledak dan avionik lokal dengan badan rudal yang dipasok dari MBDA. Proses produksi massal direncanakan berlangsung di fasilitas PTDI di Bandung dengan kapasitas 30 unit per tahun pada fase awal, sebelum meningkat menjadi 50 unit pada 2028 seiring rampungnya transfer teknologi navigasi inersia.

Dampak Strategis dan Proyeksi Industri Alutsista Nasional

Kontrak produksi massal Exocet-NAS tidak hanya memperkuat postur deterensi TNI AL, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi ekosistem industri pertahanan dalam negeri. Dengan skema offset dan transfer teknologi dari MBDA, Kemenhan memastikan bahwa kemampuan desain dan manufaktur sistem pemandu rudal dikuasai secara mandiri. Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan bahwa proyek ini berpotensi menyerap lebih dari 1.200 tenaga kerja teknis, termasuk insinyur aerodinamika dan spesialis sensor inframerah. Selain itu, rudal Exocet-NAS akan diintegrasikan ke dalam sistem tempur PKR Martadinata dan F-16V melalui antarmuka digital yang sudah disesuaikan, mempercepat interoperabilitas antar matra.

Dari sisi pasar, produksi 120 unit ini juga mencakup alokasi untuk ekspor ke tiga negara sahabat di kawasan Asia Tenggara dan Afrika yang telah menyatakan minat. Dengan harga per unit sekitar Rp47,5 miliar (setara US$3,2 juta), Exocet-NAS diposisikan sebagai alternatif kompetitif dibandingkan varian ekspor penuh MBDA, berkat kandungan lokal yang menurunkan biaya logistik dan pemeliharaan. Proyeksi industri mencatat bahwa jika target TKDN 60% tercapai, Indonesia dapat menjadi hub produksi rudal anti-kapal di kawasan, mengurangi ketergantungan pada impor alutsista dari Eropa.

Ke depan, pengembangan rudal anti-kapal Exocet-NAS harus dipandang sebagai fondasi untuk lini produk rudal jarak jauh lainnya, seperti varian darat-ke-laut (coastal defense) dan versi udara-ke-permukaan yang dapat dipasang pada drone tempur. Pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk segera memulai program sertifikasi mutu dan meningkatkan kapasitas produksi komponen elektronika militer, terutama sensor IIR dan giroskop serat optik untuk INS, agar rantai pasok lokal benar-benar mandiri. Dengan momentum ini, Indonesia berpeluang memasuki era baru kemandirian alutsista yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menjadi pemain aktif di pasar global rudal anti-kapal.

rudal anti-kapal|Exocet-NAS|PT Dirgantara Indonesia|Kemenhan|alutsista
ENTITAS TERKAIT
Topik: rudal anti-kapal, produksi massal, industri pertahanan
Organisasi: Kementerian Pertahanan RI, Badan Sarana Pertahanan, PT Dirgantara Indonesia, MBDA, TNI AL
Lokasi: Indonesia
ARTIKEL TERKAIT