STRATEGI KEMANDIRIAN
TRENDING
Kementerian Pertahanan Luncurkan Peta Jalan Induksi Teknologi Jet Tempur Generasi 5+ Tahun 2030
Kementerian Pertahanan secara resmi merilis dokumen Peta Jalan Induksi Teknologi Jet Tempur Generasi 5+ untuk Angkatan Udara Republik Indonesia (AU RI), menandai fase strategis menuju kemandirian teknologi tempur tinggi tahun 2030. Dokumen tersebut menguraikan tiga fase utama: Fase Akuisisi dan Joint Development (2026-2028), Fase Mastery dan Local Manufacturing (2029-2032), dan Fase Inovasi dan Platform Derivative (2033-2035). Target utamanya adalah menguasai teknologi inti seperti radar AESA generasi baru (GaN-based), sistem peperangan elektronik terintegrasi, mesin thrust-vectoring, dan material komposit stealth.
Fase pertama akan fokus pada pengadaan 2 skadron jet tempur dengan paket Transfer of Technology (ToT) komprehensif, mencakup pelatihan 500 engineer dan teknisi di negara asal, serta pembangunan fasilitas MRO dan depot level-3 di Indonesia. Kandidat platform yang sedang dievaluasi mencakup Dassault Rafale F4.2, KAI KF-21 Block II, dan Sukhoi Su-35 dengan paket ToT berbeda. Analisis menunjukkan paket KF-21 menawarkan partisipasi industri lokal hingga 65% dalam produksi komponen struktur dan avionik.
Fase kedua menargetkan kemampuan perakitan dan produksi komponen kritis seperti radome, wing assembly, dan vertical stabilizer di dalam negeri, dengan tingkat kandungan lokal (TKDN) minimal 40%. Lembaga riset pertahanan akan dikerahkan untuk mengembangkan substitusi material dan komponen avionik. Fase ketiga merupakan lompatan inovasi dengan target pengembangan platform derivatif untuk misi khusus seperti Electronic Attack (EA) dan Intelligence, Surveillance, Reconnaissance (ISR), serta integrasi sistem unmanned loyal wingman.
ARTIKEL TERKAIT