READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
STRATEGI KEMANDIRIAN TRENDING

Kementerian Pertahanan Teken MoU dengan Perusahaan Lokal untuk Produksi Peluru Artileri 155 mm

Kementerian Pertahanan Teken MoU dengan Perusahaan Lokal untuk Produksi Peluru Artileri 155 mm

Kemenhan meneken MoU dengan konsorsium PT Dahana, PT Pindad, dan PT Refindo Internasional untuk produksi massal peluru artileri 155 mm howitzer di Sukabumi, mengadopsi standar NATO L15 dengan jangkauan 39 km dan akurasi CEP 20 meter. Investasi Rp 12 triliun ini menargetkan kapasitas 150.000 butir per tahun mulai 2029, sekaligus transfer teknologi propelan ramah lingkungan dan sistem fusing digital. Langkah ini secara fundamental mengurangi ketergantungan impor sebesar 80 persen dan memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dalam rantai pasok amunisi strategis.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) secara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan konsorsium strategis yang terdiri dari PT Dahana, PT Pindad, dan PT Refindo Internasional untuk memulai produksi massal peluru artileri kaliber 155 mm howitzer. Langkah ini menandai satu lompatan besar dalam program Kemandirian Industri pertahanan nasional, sekaligus menekan angka ketergantungan impor amunisi artileri yang selama ini mencapai 80 persen dari pemasok Eropa dan Rusia. Berdasarkan data spesifikasi teknis, peluru yang akan diproduksi mengadopsi standar NATO L15, dengan jangkauan maksimum 39 kilometer pada moda full charge dan akurasi Circular Error Probable (CEP) hanya 20 meter — setara dengan standar tempur NATO. Proyek ini akan berpusat di pabrik amunisi baru di Sukabumi yang menelan investasi hingga Rp 12 triliun, dengan kapasitas produksi direncanakan mencapai 150.000 butir per tahun mulai tahun 2029.

Spesifikasi Teknis dan Skema Transfer Teknologi Peluru Artileri 155 mm

Dalam kesepakatan MoU ini, konsorsium tidak hanya berfokus pada produksi massal, tetapi juga mencakup transfer teknologi strategis yang mendukung kemandirian rantai pasok. Beberapa poin teknis utama dari proyek ini meliputi:

  • Standar NATO L15: Peluru dirancang untuk interoperabilitas penuh dengan howitzer standar aliansi, memungkinkan integrasi logistik dengan sistem pertahanan global.
  • Jangkauan dan Akurasi: Maksimum 39 km dengan CEP 20 meter pada full charge, memberikan kemampuan tembakan presisi jarak jauh untuk medan tempur modern.
  • Propelan Ramah Lingkungan: Transfer teknologi mencakup pengembangan propelan generasi baru yang mengurangi emisi gas rumah kaca dan residu kimia pada laras.
  • Sistem Fusing Digital: Integrasi detonator digital pintar yang dapat diprogram untuk mode ledakan udara, permukaan, atau penundaan, meningkatkan fleksibilitas taktis.

Dengan adopsi teknologi ini, Kemenhan menargetkan pemenuhan kebutuhan TNI AD secara penuh serta membuka peluang ekspor ke negara-negara yang menggunakan howitzer kaliber 155 mm, terutama di kawasan Asia-Pasifik dan Afrika.

Dampak Strategis terhadap Kemandirian Industri dan Neraca Pertahanan

Proyek Peluru Artileri 155 mm ini merupakan bagian dari peta jalan Kemandirian Industri pertahanan yang dicanangkan Kemenhan sejak 2020. Sebelumnya, Indonesia sangat bergantung pada impor amunisi artileri dari Jerman, Prancis, dan Rusia yang tidak hanya memakan devisa besar, tetapi juga rawan terhadap embargo politik. Dengan produksi lokal 150.000 butir per tahun, Indonesia diperkirakan dapat menghemat devisa hingga Rp 3 triliun per tahun dalam lima tahun ke depan. Selain itu, pabrik di Sukabumi juga dirancang sebagai pusat riset dan pengembangan propelan serta sistem fusing, yang menjadi dasar bagi generasi amunisi pintar (smart munitions) buatan dalam negeri. Langkah ini juga memperkuat posisi PT Pindad sebagai integrator sistem persenjataan darat, PT Dahana sebagai pengolah bahan peledak, dan PT Refindo sebagai spesialis elektronika pertahanan.

Ke depan, keberhasilan program MoU ini akan menjadi model bagi proyek amunisi kaliber besar lainnya, seperti peluru tank 120 mm dan roket artileri 122 mm. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah segera mematangkan skema integrasi rantai pasok hulu-hilir, termasuk pengadaan bahan baku khusus seperti latihan propelan RDX dan HMX, serta mempercepat sertifikasi NATO untuk menjamin daya saing ekspor. Dengan fondasi teknologi yang kokoh dan komitmen investasi jangka panjang, sektor amunisi artileri nasional siap menjadi tulang punggung pertahanan darat Indonesia sekaligus pemain kunci di pasar global pertahanan.

Kemenhan|Peluru Artileri|MoU|Kemandirian Industri
ENTITAS TERKAIT
Topik: Produksi Peluru Artileri 155 mm, Transfer Teknologi
Organisasi: Kementerian Pertahanan, PT Dahana, PT Pindad, PT Refindo Internasional, TNI AD, NATO
Lokasi: Sukabumi, Eropa, Rusia
ARTIKEL TERKAIT