Kementerian Pertahanan (Kemhan) secara strategis menggandeng konsorsium BUMN teknologi seperti PT Len, PT LEN Industri, dan PT INTI untuk membangun Combat Management System (CMS) generasi berikutnya dengan prinsip open architecture. CMS ini akan menjadi otak komputasi yang mengintegrasikan data dari radar, sonar, sistem electronic warfare, dan arsenal senjata kapal perang, memberikan situational awareness dan decision support yang superior kepada komandan. Proyek ini menargetkan kemandirian software dalam software-defined warfare capability, area yang masih didominasi oleh vendor asing dari Eropa dan Israel.
Architecture Modular & Cybersecurity sebagai Fondasi
Pengembangan CMS nasional akan mengadopsi pendekatan service-oriented architecture (SOA) yang modular. Desain ini memungkinkan pemutakhiran kemampuan sensor dan effector secara incremental tanpa perlu overhaul sistem utama, sehingga menjaga kapal tetap relevan terhadap evolusi ancaman. Cybersecurity dan anti-jamming capability dijadikan prioritas desain dari awal, mengantisipasi ancaman di domain cyber dan electronic warfare yang semakin sophisticated. Fokus pada security ini juga memperkuat interoperabilitas CMS dengan platform TNI AL existing dan future, mulai dari frigate, corvette, hingga fast attack craft.
- Architecture: Service-Oriented Architecture (SOA) berbasis modular.
- Prioritas Desain: Cybersecurity hardening dan anti-jamming capability terintegrasi.
- Interoperabilitas: Kompatibel dengan platform TNI AL existing dan rencana future.
- Model Pengembangan: Prototype awal akan diuji pada platform tertentu, dengan target mencapai Technology Readiness Level (TRL) 7 dalam tiga tahun.
Mengubah Ketergantungan menjadi Design Authority
Inisiatif Kemhan dan BUMN Teknologi ini bukan hanya proyek pengembangan software, tetapi langkah krusial untuk mengubah pola ketergantungan (dependency) menjadi kemandirian berbasis design authority. Dengan memiliki source code dan full control atas desain sistem, TNI AL dapat melakukan customisasi mendalam sesuai doktrin operasional spesifik, integrasi seamless dengan sistem komunikasi nasional, serta pemeliharaan yang lebih cepat dan cost-effective. Kemandirian software ini secara langsung mengurangi strategic vulnerability yang muncul dari ketergantungan pada foreign proprietary systems.
Keberhasilan proyek Combat Management System nasional ini akan menjadi blueprint operasional dan teknis untuk pengembangan sistem C4ISR terintegrasi di matra lain, memperkuat postur deterrence Indonesia. Outlook teknologi menuju kemandirian software di industri pertahanan memerlukan komitmen sustain dalam riset, pengujian integrasi yang rigorous, serta pembangunan ekosistem talenta digital di bidang defence technology. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah memperkuat kolaborasi triple helix antara pemerintah, BUMN/swasta, dan akademisi untuk menciptakan pipeline innovation yang terus menghasilkan solusi teknologis indigenous.