PT Len Industri dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) resmi memasuki fase integrasi sistem pada pengembangan radar generasi baru Counter Rocket, Artillery, Mortar (C-RAM) yang dirancang untuk memperkuat pertahanan pangkalan militer. Sistem ini mengusung teknologi phased array pita X-band yang mampu mendeteksi dan melacak proyektil roket serta mortir pada jarak hingga 40 kilometer, dengan waktu kalkulasi titik peluncuran kurang dari lima detik. Proyek senilai Rp200 miliar ini menandai langkah strategis dalam kemandirian alutsista nasional, khususnya pada segi pertahanan udara jarak pendek. Kolaborasi antara PT Len dan BPPT ini tidak hanya mengandalkan kemampuan deteksi konvensional, tetapi juga mengintegrasikan algoritma machine learning untuk membedakan ancaman asli dari umpan atau decoy—sebuah fitur krusial dalam lingkungan pertempuran modern yang sarat dengan taktik pengecohan.
Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Deteksi Radar C-RAM
Radar C-RAM yang dikembangkan oleh PT Len dan BPPT bekerja dalam mode deteksi otomatis dengan kemampuan track-while-scan pada berbagai kondisi cuaca. Berdasarkan data industri, sistem ini menawarkan spesifikasi teknis utama sebagai berikut:
- Frekuensi operasi: pita X-band (8–12 GHz) dengan resolusi tinggi untuk identifikasi target kecil, termasuk proyektil kaliber 60–120 mm.
- Jangkauan deteksi: 40 km untuk roket dan mortir, memungkinkan peringatan dini yang memadai bagi sistem pertahanan pangkalan.
- Waktu respons: kurang dari 5 detik dari deteksi hingga kalkulasi titik peluncuran (counter-battery), memberikan jendela reaksi yang kritis bagi operator.
- Integrasi dengan sistem senjata: terhubung langsung dengan meriam kaliber 35 mm buatan PT Pindad sebagai elemen hard-kill pemotong lintasan.
- Kemampuan electronic counter-countermeasures (ECCM): berkat arsitektur digital beamforming, sistem ini tahan terhadap gangguan elektronik musuh.
Uji coba lapangan direncanakan berlangsung di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AD Baturaja pada Desember 2026, dengan skenario simulasi serangan roket dan mortir simultan untuk menguji ketahanan sistem dalam kondisi taktis sebenarnya. Keberhasilan uji coba ini akan menjadi milestone penting sebelum sistem siap dioperasionalkan di pangkalan militer strategis.
Strategi Kemandirian Industri dan Dampak Operasional
Kolaborasi antara PT Len dan BPPT dalam proyek radar C-RAM ini tidak hanya menjawab kebutuhan pertahanan pangkalan dari ancaman proyektil tidak presisi, tetapi juga memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional. Integrasi radar dengan meriam 35 mm buatan PT Pindad menciptakan sistem end-to-end yang sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri. Hal ini mengurangi ketergantungan pada komponen impor dan membuka peluang ekspor alutsista ke negara-negara yang menghadapi ancaman asimetris serupa. Dari sisi operasional, kemampuan machine learning untuk membedakan ancaman nyata dan decoy menjadi nilai tambah signifikan, mengingat taktik musuh modern sering menggunakan umpan untuk membanjiri sistem pertahanan.
Dengan anggaran Rp200 miliar dan jadwal uji coba pada 2026, proyek ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam mengejar kemandirian alutsista. Keberlanjutan program juga akan bergantung pada kemampuan industri dalam negeri untuk memproduksi komponen kritis seperti transmit/receive module (TRM) yang selama ini masih diimpor. Jika berhasil, sistem radar C-RAM buatan PT Len dan BPPT tidak hanya akan menjadi tulang punggung pertahanan pangkalan TNI, tetapi juga menjadi showcase kemampuan teknologi pertahanan Indonesia di kancah global.
Ke depan, pelaku industri pertahanan nasional perlu mendorong investasi riset pada teknologi gallium nitride (GaN) untuk meningkatkan efisiensi daya radar generasi berikutnya. Kolaborasi lintas institusi seperti yang dilakukan PT Len dan BPPT harus diperluas ke segmen radar jarak menengah dan panjang, sehingga ekosistem pertahanan elektronik nasional semakin matang dan kompetitif. Dengan langkah sistematis, Indonesia dapat mengurangi kesenjangan teknologi dengan negara maju sekaligus memperkuat postur pertahanan berbasis industri dalam negeri.