KRI Bima Sakti-971, yang sebelumnya berperan sebagai Kapal Bantu Rumah Sakit (KBRS), telah menyelesaikan program retrofit besar-besaran di galangan PT PAL Indonesia, bertransformasi menjadi platform pertahanan udara tangguh dengan integrasi sistem peluncur vertikal VL MICA buatan MBDA. Kapal perang sepanjang 125 meter ini kini mengoperasikan 12 sel Vertical Launching System (VLS), mampu menembakkan rudal dengan jangkauan 20 hingga 50 kilometer untuk menghadapi ancaman udara pada permukaan dan ketinggian rendah. Proses retrofit ini juga mencakup pemasangan radar penjejak AESA hasil pengembangan PT Len serta sistem manajemen tempur (SDS) buatan dalam negeri, memungkinkan kapal beroperasi dalam jaringan operasi laut gabungan secara real-time. Dengan nilai kontrak sebesar 480 miliar rupiah—35 persen lebih murah dibandingkan membangun kapal baru—program ini menjadi contoh efisiensi anggaran dalam pengadaan alutsista yang strategis.
Transformasi KRI Bima Sakti: Integrasi Rudal VL MICA dan Radar AESA Lokal
Revitalisasi alutsista ini bukan sekadar upgrade fisik, melainkan lompatan teknologi yang signifikan dalam industri pertahanan nasional. Sistem VL MICA memberikan kemampuan pertahanan udara point-defense yang responsif terhadap ancaman modern seperti rudal anti-kapal dan pesawat musuh, dengan konfigurasi 12 sel VLS yang mampu melancarkan tembakan salvo untuk mengatasi serangan gelombang kedua. Berikut adalah detail teknis utama dari program retrofit ini:
- Spesifikasi VL MICA: Rudal berbasis vertikal dengan jangkauan 20-50 km, mampu menargetkan ancaman udara pada ketinggian rendah hingga menengah, serta memiliki sistem pencari inframerah dan radar aktif.
- Radar AESA PT Len: Menawarkan deteksi dan penjejakan multi-target secara simultan dengan akurasi tinggi dalam segala cuaca, meningkatkan kesadaran situasional kapal.
- Sistem Manajemen Tempur (SDS): Dikembangkan secara lokal, berfungsi sebagai otak tempur yang mengintegrasikan sensor dan efektor, memungkinkan keputusan taktis dalam hitungan detik.
- Modifikasi Struktural: Pemasangan VLS memerlukan modifikasi struktur lambung yang presisi untuk menjamin stabilitas dan keselamatan saat peluncuran rudal, diselesaikan oleh tim insinyur PT PAL dalam kurun waktu ketat.
Proses retrofit ini juga mencakup upgrade sistem propulsi, kelistrikan, dan akomodasi awak, memastikan kapal berusia 16 tahun ini memiliki keandalan operasional setara kapal baru. Keberhasilan ini menegaskan peningkatan kapabilitas industri galangan kapal nasional dalam menangani proyek alutsista kompleks, sekaligus mengurangi ketergantungan pada vendor asing.
Efisiensi Anggaran dan Strategi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Dari perspektif industri pertahanan, program retrofit KRI Bima Sakti menjadi contoh pemanfaatan anggaran pemeliharaan yang efisien, dengan penghematan hingga 35 persen dibandingkan membangun kapal baru dengan kemampuan setara. Kapal dijadwalkan beroperasi penuh pada Maret 2027 dan akan ditempatkan di Koarmada II, memperkuat pertahanan udara armada di wilayah tengah Indonesia. Model retrofit ini membuktikan bahwa revitalisasi alutsista eksisting dapat menjadi solusi strategis untuk mempercepat peningkatan kapabilitas tempur tanpa harus mengeluarkan anggaran besar untuk pengadaan baru.
Ke depan, keberhasilan integrasi rudal VL MICA dan radar AESA lokal pada KRI Bima Sakti membuka peluang bagi program retrofit serupa pada kapal-kapal perang lain di jajaran TNI AL. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah terus mengembangkan kompetensi dalam sistem persenjataan modular dan sensor buatan dalam negeri, serta memperkuat kemitraan dengan lembaga riset untuk menghasilkan teknologi yang lebih mandiri. Langkah ini tidak hanya menghemat anggaran negara, tetapi juga memperkokoh ekosistem industri pertahanan yang berdaulat dan siap menghadapi tantangan geopolitik masa depan.