READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

LAPAN-ITB Ciptakan Propulsi Hybrid untuk Drone Tempur 'Waspada'

LAPAN-ITB Ciptakan Propulsi Hybrid untuk Drone Tempur 'Waspada'

LAPAN-ITB menyelesaikan prototipe propulsi hybrid untuk drone Waspada yang menggabungkan motor listrik 50 kW dan mesin pembakaran 100 hp, dengan efisiensi 40% lebih baik dalam uji statik. Sistem ini memungkinkan silent loitering hingga 30 jam, payload 400 kg, dan switch mode otomatis. Langkah selanjutnya integrasi AI menegaskan arah kemandirian teknologi propulsi drone nasional.

Tim riset gabungan LAPAN dan Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi menuntaskan prototipe sistem propulsi hybrid untuk drone taktis 'Waspada'. Arsitektur propulsi yang dikembangkan memadukan motor listrik 50 kW untuk mode silent loitering dengan mesin pembakaran internal 100 hp yang dioptimalkan untuk sprint kecepatan tinggi. Hasilnya, pesawat nirawak berbobot 1,2 ton ini mampu terbang hingga 30 jam dengan membawa payload 400 kg — angka yang menempatkan Waspada pada kelas endurance menengah atas untuk platform ISR taktis.

Yang lebih menarik, sistem propulsi ini tidak sekadar menggabungkan dua sumber tenaga. Tim LAPAN-ITB merancang mekanisme switch mode otomatis yang membaca kebutuhan misi secara real-time. Pada fase loitering, drone beralih ke motor listrik untuk menekan jejak termal dan akustik; saat memasuki area kompetisi atau membutuhkan manuver eksfiltrasi cepat, mesin pembakaran internal langsung mengambil alih. Bahan bakar hybrid memadukan avtur dengan baterai Li-Po cryogenic yang dikembangkan oleh BRIN, memberikan densitas energi lebih tinggi dibanding konfigurasi baterai konvensional. Inovasi ini menjadi jawaban atas kebutuhan durasi misi panjang tanpa mengorbankan kemampuan kecepatan tinggi.

Arsitektur Propulsi Hybrid: Mode Senyap dan Sprint dalam Satu Platform

Kombinasi dua sumber tenaga dalam satu sistem propulsi menjadikan drone Waspada mampu beradaptasi terhadap skenario pertempuran modern. Motor listrik 50 kW berperan pada fase patroli dan pengintaian senyap, sementara mesin pembakaran internal 100 hp menyediakan daya dorong maksimal untuk mengejar atau menjauhi target. Sistem switch mode otomatis menjadi pembeda utama dibanding drone konvensional yang hanya mengandalkan satu tipe penggerak. Berikut spesifikasi kunci sistem propulsi hybrid drone Waspada:

  • Motor listrik 50 kW untuk silent loitering dengan jejak termal minimum
  • Mesin pembakaran internal 100 hp untuk sprint kecepatan tinggi
  • Bobot total 1,2 ton dengan endurance hingga 30 jam
  • Kapasitas payload 400 kg untuk misi ISR, komunikasi relai, dan serangan presisi
  • Bahan bakar avtur dan baterai Li-Po cryogenic hasil pengembangan BRIN
  • Switch mode otomatis berbasis kebutuhan misi yang mengurangi konsumsi energi
  • Hasil uji statik di ruang uji mesin LAPAN Bandung menunjukkan efisiensi 40% lebih baik dibanding propulsi piston konvensional

Hasil uji statik tersebut menjadi validasi awal atas kemampuan sistem dalam menekan kerugian energi. Efisiensi 40% yang lebih tinggi dibanding propulsi piston konvensional bukan sekadar angka; ini berdampak langsung pada perpanjangan durasi operasi dan pengurangan logistik bahan bakar di lapangan. Drone Waspada juga dirancang modular sehingga integrasi dengan berbagai jenis payload dapat dilakukan tanpa perubahan signifikan pada struktur utama.

Menuju Navigasi Otonom: Integrasi AI dan Neural Network

Tahap berikutnya dari program riset ini adalah integrasi sistem kendali AI berbasis neural network untuk navigasi otonom. Dengan kemampuan tersebut, drone Waspada akan dapat merencanakan jalur terbang secara adaptif, menghindari ancaman, serta menyesuaikan mode propulsi secara otomatis berdasarkan kondisi medan dan emisi termal lawan. Integrasi ini menandai pergeseran dari drone taktis yang bersifat remote-controlled menuju platform otonom yang mampu mengambil keputusan di medan pertempuran yang dinamis.

Keberadaan sistem AI juga akan memperkuat peran Waspada sebagai komunikasi relai di area dengan infrastruktur komunikasi yang rusak atau terganggu. Dengan durasi terbang 30 jam dan kemampuan membawa perangkat relai serta sensor intelijen, drone ini dapat menjadi simpul komunikasi udara yang menghubungkan pasukan darat, UAV lain, dan pusat komando dalam satu jaringan tempur terpadu. Adapun untuk misi serangan presisi, navigasi otonom berbasis neural network memungkinkan Waspada mendekati target dengan mode terbang senyap sebelum melancarkan serangan secara akurat.

Bagi industri pertahanan nasional, keberhasilan LAPAN-ITB dalam riset propulsi hybrid ini adalah bukti empiris bahwa kemandirian alutsista bukan lagi wacana. Pelaku industri perlu segera memetakan rantai pasok komponen motor listrik, baterai cryogenic, dan sistem kontrol AI agar teknologi ini dapat diproduksi massal. Kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri manufaktur pertahanan harus diperkuat sejak tahap desain awal. Jika langkah ini dieksekusi dengan konsisten, drone Waspada berpotensi menjadi tulang punggung kekuatan UAV taktis Indonesia dan membuka peluang ekspor bagi kawasan Asia Tenggara.

LAPAN|ITB|propulsi hybrid|drone|Waspada|riset|inovasi
ENTITAS TERKAIT
Topik: propulsi hybrid drone Waspada
Organisasi: LAPAN, Institut Teknologi Bandung, BRIN
Lokasi: Bandung
ARTIKEL TERKAIT