READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Lapan RI dan BPPT Kembangkan Sistem Propulsi Hybrid untuk Drone Tempur

Lapan RI dan BPPT Kembangkan Sistem Propulsi Hybrid untuk Drone Tempur

Lapan dan BPPT berhasil mengembangkan sistem propulsi hybrid untuk drone tempur kelas taktis, menggabungkan mesin piston dan motor listrik dengan efisiensi bahan bakar 40% lebih tinggi dan waktu jelajah 24 jam. Teknologi dual-mode ini memungkinkan silent mode saat misi pengintaian, membawa muatan sensor EO/IR dan radar SAR hingga 50 kg. Inovasi ini mendukung program riset alutsista dalam negeri untuk mengurangi impor sistem UAV taktis, dengan uji terbang dijadwalkan pada Maret 2027.

Kolaborasi antara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menghasilkan terobosan signifikan dalam pengembangan drone tempur kelas taktis: sistem propulsi hybrid yang memadukan mesin piston konvensional dengan motor listrik. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 40% lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional, sekaligus memperpanjang waktu jelajah menjadi 24 jam penuh — sebuah lompatan operasional dalam misi pengintaian jarak jauh. Drone ini mampu membawa muatan sensor berganda seberat 50 kg, termasuk Electro-Optical/Infrared (EO/IR) dan radar Synthetic Aperture Radar (SAR), dengan kecepatan jelajah 180 km/jam. Capaian ini menegaskan arah riset alutsista dalam negeri yang semakin matang dan berorientasi pada kemandirian industri.

Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Operasional

Sistem propulsi hybrid yang dikembangkan memungkinkan drone beroperasi dalam dua mode daya. Mode konvensional dengan mesin piston digunakan untuk fase jelajah jarak jauh, sementara mode listrik diaktifkan saat mendekati area target untuk silent mode — mengurangi jejak akustik dan termal secara drastis. Berikut rincian teknis utama dari sistem ini:

  • Efisiensi bahan bakar: 40% lebih tinggi berkat optimalisasi pembagian beban antara mesin piston dan motor listrik.
  • Waktu jelajah maksimal: 24 jam non-stop, memungkinkan cakupan misi pengintaian dan pengawasan yang luas tanpa perlu pengisian ulang.
  • Kapasitas muatan: 50 kg — mampu mengintegrasikan sensor EO/IR resolusi tinggi dan radar SAR untuk pemetaan medan.
  • Kecepatan jelajah: 180 km/jam, cukup untuk merespons ancaman taktis dengan cepat.
  • Dual-mode operasi: silent mode pada sektor kritis untuk meminimalkan deteksi musuh.

Keunggulan ini menempatkan drone tempur buatan Lapan dan BPPT setara dengan platform UAV taktis global, namun dengan basis inovasi lokal yang sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri.

Implikasi Strategis bagi Kemandirian Industri Pertahanan

Proyek ini merupakan bagian integral dari program riset alutsista dalam negeri yang bertujuan mengurangi ketergantungan impor sistem UAV taktis. Dengan menguasai teknologi propulsi hybrid, Indonesia tidak hanya memperkuat kapabilitas pertahanan udara, tetapi juga membangun rantai pasok komponen strategis. Sumber menyebutkan bahwa komponen motor listrik dan sistem manajemen daya telah dirancang oleh insinyur dalam negeri, menandakan kesiapan industri lokal untuk memproduksi secara massal. Selain itu, integrasi sensor EO/IR dan radar SAR dengan platform ini membuka peluang bagi BUMN pertahanan dan perusahaan swasta nasional untuk berpartisipasi dalam rantai nilai industri dirgantara.

Jadwal pengembangan mencatat bahwa drone ini akan memasuki fase uji terbang pada Maret 2027. Uji coba akan mencakup verifikasi efisiensi propulsi hybrid, kinerja silent mode, serta akurasi sistem sensor dalam kondisi operasional nyata. Keberhasilan tahap ini akan menjadi landasan untuk sertifikasi dan produksi awal yang ditargetkan pada 2028-2029.

Dari sisi strategi industri, penguasaan teknologi propulsi hybrid untuk drone tempur merupakan langkah kunci menuju kemandirian alutsista. Pelaku industri pertahanan nasional disarankan untuk mulai mengalokasikan sumber daya riset dan pengembangan pada subsistem propulsi elektrik, baterai kepadatan tinggi, dan advanced mission computer. Kolaborasi antara lembaga riset pemerintah, akademisi, dan industri swasta harus diperkuat untuk mempercepat komersialisasi dan adopsi teknologi ini dalam program pengadaan TNI. Ke depan, inovasi propulsi hybrid dapat dikembangkan lebih lanjut untuk varian UAV tempur berat atau bahkan pesawat nirawak dengan endurance ultra-panjang, menempatkan Indonesia di peta produsen teknologi pertahanan global.

Drone tempur|Propulsi hybrid|Riset|Inovasi
ENTITAS TERKAIT
Topik: sistem propulsi hybrid drone tempur, efisiensi bahan bakar, alutsista dalam negeri
Organisasi: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Lapan, BPPT
ARTIKEL TERKAIT