READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
RISET & INOVASI ALUTSISTA TRENDING

Lembaga Riset Pertahanan Uji Coba Kapal Selam Tanpa Awak KRI Oarfish Generasi Kedua

Lembaga Riset Pertahanan Uji Coba Kapal Selam Tanpa Awak KRI Oarfish Generasi Kedua

BRIN bersama TNI AL sukses menguji kapal selam tanpa awak (UUV) KRI Oarfish generasi kedua di perairan Lombok. Platform otonom sepanjang 12 meter ini mengusung propulsi hybrid lithium-ion dan fuel cell hidrogen dengan ketahanan misi 30 hari hingga kedalaman 1.000 meter. Keberhasilan ini memperkuat riset alutsista nasional dan menargetkan produksi massal pada 2028 untuk membangun kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama TNI Angkatan Laut (TNI AL) sukses menggelar uji coba kapal selam tanpa awak (UUV) KRI Oarfish generasi kedua di perairan Lombok pada 13 Agustus 2026. Uji coba ini menjadi tonggak penting dalam riset alutsista nasional, khususnya untuk memperkuat kapabilitas pengawasan laut dalam dan perang anti-kapal selam. Dengan panjang 12 meter dan kemampuan menyelam hingga kedalaman maksimum 1.000 meter, KRI Oarfish merupakan platform otonom paling ekstrem yang pernah diuji TNI AL. Sistem propulsi hybrid yang memadukan baterai lithium-ion dan fuel cell hidrogen memungkinkan operasi kontinu selama 30 hari tanpa perlu muncul ke permukaan, menjadikannya aset strategis untuk misi persistensi tinggi di kawasan Indo-Pasifik.

Spesifikasi Teknis dan Inovasi Propulsi Hibrida

Dari sisi teknis, KRI Oarfish mengadopsi arsitektur propulsi hybrid yang memungkinkan mode silent running pada 4 knot untuk menyusup tanpa terdeteksi, sementara kecepatan jelajah mencapai 8 knot. Sistem persenjataan yang diusung meliputi torpedo ringan untuk misi ofensif, sekaligus sonar side-scan multifrekuensi dan kamera 4K untuk pengintaian resolusi tinggi. Berikut rincian spesifikasi utamanya:

  • Dimensi: panjang 12 meter, diameter 2,5 meter
  • Kedalaman operasional: maksimum 1.000 meter
  • Sistem propulsi: hybrid baterai lithium-ion + fuel cell hidrogen
  • Daya tahan misi: 30 hari otonom
  • Kecepatan: jelajah 8 knot, silent running 4 knot
  • Sensor: sonar side-scan multifrekuensi dan kamera 4K
  • Persenjataan: torpedo ringan untuk misi ofensif

Kombinasi kemampuan silent running dan daya tahan 30 hari memberikan keunggulan operasional yang sebelumnya hanya dimiliki kapal selam berawak. Dalam perspektif strategis, UUV ini dapat menjalankan misi intelijen maritim, deteksi ranjau, hingga perang anti-kapal selam secara otonom tanpa membahayakan awak. Data yang dikumpulkan melalui sonar side-scan multifrekuensi dan kamera 4K juga memperkuat kesadaran medan bawah air bagi satuan operasi TNI AL.

Tahapan Menuju Produksi Massal 2028

Uji coba KRI Oarfish generasi kedua merupakan bagian dari program riset strategis yang memanfaatkan data lapangan untuk menyempurnakan desain UUV operasional. BRIN dan TNI AL menargetkan bahwa semua temuan dari uji coba ini—termasuk performa propulsi di tekanan tinggi, akurasi sonar, dan keandalan sistem navigasi otonom—akan diintegrasikan ke dalam purwarupa akhir. Rencana Induk Riset Alutsista Nasional menetapkan bahwa produksi massal UUV ini akan dimulai pada tahun 2028, dengan dukungan penuh dari industri pertahanan dalam negeri untuk memperkuat kemandirian riset alutsista.

Melihat tren global, keberhasilan kapal selam tanpa awak KRI Oarfish akan membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok UUV di kawasan Indo-Pasifik. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, direkomendasikan untuk segera menjajaki kolaborasi riset dengan BRIN dan TNI AL dalam pengembangan komponen kritis seperti fuel cell hidrogen dan sistem torpedo miniatur. Langkah strategis ini tidak hanya mempercepat adopsi teknologi otonom, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki kapabilitas produksi alutsista yang mandiri dan berdaya saing global pada dekade mendatang.

kapal selam tanpa awak|UUV|riset alutsista|TNI AL
ENTITAS TERKAIT
Topik: uji coba kapal selam tanpa awak, inovasi alutsista, pengawasan laut dalam, perang anti-kapal selam
Organisasi: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), TNI AL
Lokasi: perairan Lombok
ARTIKEL TERKAIT