Modernisasi KRI Sriwijaya (eks ITS Giuseppe Garibaldi) resmi memasuki fase assessment komprehensif yang melibatkan konsorsium PT PAL Indonesia dan Fincantieri S.p.A. Proses ini mencakup pemindaian struktural menggunakan sensor ultrasonik fase array dan laser scanning untuk memetakan integritas lambung kapal berusia 41 tahun. Platform kapal induk dengan bobot 13.850 ton ini harus menopang penambahan sistem sensor integrated mast serta flight deck yang diperkuat untuk mendukung operasi helikopter Angkatan Udara masa depan. Data mikrometrik yang dihasilkan menjadi basis penentuan toleransi modifikasi struktur dan ruang lingkup pekerjaan refurbishment secara presisi.
Assessment Struktural dan Audit Teknologi: Fondasi Modernisasi KRI Sriwijaya
Tahap condition assessment mencakup audit teknologi terhadap 147 sistem terintegrasi kapal, mulai dari propulsi COGAG dengan empat turbin gas LM2500 hingga sistem kendali senjata NA-30. Analisis difokuskan untuk mengidentifikasi technological obsolescence pada sistem legacy dan menyusun roadmap migrasi menuju open architecture combat system berbasis Indonesia's Next Generation Combat System (INGCS). Fase ini krusial untuk menentukan scope of work refurbishment yang meliputi penggantian 68% kabel serat optik serta integrasi sistem komunikasi TNI-AL baru untuk menggantikan perangkat standar NATO yang tidak kompatibel. Proses ini menjadi penentu utama keberhasilan modernisasi kapal induk yang selaras dengan kebutuhan platform warfare TNI AL.
Beberapa aspek teknis yang menjadi prioritas dalam assessment modernisasi meliputi:
- Pemetaan kelelahan struktur lambung baja HY-80 dengan metode non-destructive testing untuk memastikan integritas jangka panjang.
- Evaluasi kompatibilitas sistem propulksi dan distribusi tenaga listrik dengan beban baru sistem radar dan senjata.
- Analisis stabilitas kapal pasca-penambahan modul combat system dan integrated mast.
- Pengkajian ulang arsitektur kabel untuk mendukung migrasi ke jaringan data berkecepatan tinggi.
Integrasi C4ISR Generasi 5.5 dan Target Kemandirian Industri
Proyeksi teknologi modernisasi ini menargetkan integrasi sistem komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian (C4ISR) generasi 5.5. Dengan dukungan bandwidth satelit militer mencapai 2 Gbps, kapal ini dirancang untuk real-time battle management yang terhubung dalam jaringan pertahanan nasional. Langkah ini menegaskan bahwa modernisasi alutsista tidak hanya berorientasi pada perpanjangan umur pakai, melainkan juga peningkatan kapabilitas sebagai node sentral dalam sistem pertahanan maritim. Kehadiran INGCS menjadi pembeda utama dari kapal perang lain di kawasan.
Dari sisi industri, proyek ini menjadi benchmark kemampuan galangan nasional dalam menangani kapal perang high-value asset. Transfer knowledge yang diberikan mencakup advanced welding technique untuk high-tensile steel HY-80 dan sistem integrasi modular combat system. Capaian ini mengkatalisasi ekosistem industri pertahanan nasional menuju kemampuan full-cycle support untuk platform kapal induk hingga 2045. Kemandirian industri pertahanan Indonesia pun mendapatkan momentum strategis, terutama dalam penguasaan teknologi perawatan dan modifikasi kapal induk secara mandiri.
Ke depan, keberhasilan modernisasi KRI Sriwijaya akan menjadi fondasi bagi pengembangan kapal induk Nusantara yang lebih ambisius. Pelaku industri pertahanan nasional direkomendasikan untuk memperkuat investasi pada riset material, sistem integrasi, dan pengujian non-destruktif agar mampu bersaing di pasar global. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya bernilai teknis, tetapi juga menjadi lompatan strategis dalam mewujudkan kemandirian alutsista dan ketahanan pertahanan yang berkelanjutan.