TNI Angkatan Laut mengkaji konversi kapal perang tua—termasuk korvet kelas Fatahillah dan kapal cepat rudal—menjadi Drone Carrier multifungsi, sebuah langkah optimalisasi fleet yang mentransformasi aset lama menjadi platform force multiplier berbasis unmanned systems. Studi teknis mengusulkan integrasi flight deck untuk drone rotary-wing dan fixed-wing VTOL, sistem catapult/rail launcher, serta Combat Information Center yang mampu mengendalikan hingga 50 drone secara simultan untuk misi ISR, electronic warfare, dan mine countermeasures.
Arsitektur Teknis dan Konfigurasi Sistem Drone Carrier
Konfigurasi Drone Carrier yang diusulkan mencakup modifikasi struktural dan elektronik komprehensif. Badan kapal yang masih solid akan diperkuat dengan penambahan flight deck komposit dan hangar modular, sementara propulsi eksisting dipertahankan untuk efisiensi biaya. Sistem pendukung meliputi:
- Generator tambahan 2–4 MW untuk mensuplai daya drone dan sistem pendingin elektronik
- Data-link satelit militer Ku/Ka-band dengan bandwidth 200+ Mbps untuk real-time C2
- Launch and Recovery Systems (LARS) untuk drone bawah air dan permukaan
- Modular Mission Bay yang dapat dikonfigurasi ulang dalam 6–8 jam operasional
Roadmap Teknologi dan Dampak Kemandirian Industri Pertahanan
Konversi ini bukan sekadar upgrade kapal, melainkan strategi industri yang mempercepat adopsi teknologi unmanned systems dalam ekosistem pertahanan nasional. Implementasinya akan melibatkan PT PAL Indonesia dan galangan swasta nasional dalam integrasi sistem yang mencakup:
- Pengembangan drone loitering munition dengan jangkauan 150+ km dan swarm capability
- Integrasi AI-based mission planning untuk autonomous drone operations
- Synthetic Aperture Radar (SAR) miniatur untuk drone ISR maritim
Proyek ini menciptakan demand riil bagi industri drone lokal seperti PT Dirgantara Indonesia dan startup pertahanan, sekaligus membangun kompetensi dalam network-centric warfare architecture.
Dari perspektif fleet optimization, konversi kapal tua menjadi Drone Carrier menawarkan cost-to-capability ratio yang 40–60% lebih efisien dibanding pembangunan kapal baru. Platform ini dapat beroperasi sebagai bagian dari distributed naval grid, memberikan persistent surveillance di choke points strategis seperti Selat Malaka dan Laut Natuna. Dengan masa operasional tersisa 10–15 tahun, kapal-kapal konversi ini menjadi bridging solution menuju hybrid carrier fleet masa depan.
Outlook teknologi untuk program konversi ini mencakup potensi integrasi energy weapons untuk drone defense, quantum-resistant encryption untuk data-link, dan autonomous swarm algorithms. Bagi industri pertahanan nasional, ini adalah momentum untuk mengembangkan standardized drone interfaces dan universal control systems yang dapat diaplikasikan di berbagai platform TNI AL. Investasi dalam drone swarm technology dan maritime AI infrastructure akan menentukan posisi Indonesia dalam unmanned naval warfare di kawasan Indo-Pasifik.