PT Pindad Amunisi, anak usaha PT Pindad, resmi memulai konstruksi pabrik baru amunisi kaliber besar di Cilegon, Banten. Fasilitas berkapasitas 50.000 butir per bulan untuk kaliber 105 mm dan 155 mm ini mengadopsi mesin CNC lima sumbu dari Jerman serta sistem pengepresan bertekanan tinggi yang dikembangkan dari dalam negeri. Proyek senilai Rp2,8 triliun yang bersumber dari APBN 2026 dan pinjaman lunak Bank Mandiri ini merupakan tonggak penting bagi kemandirian pasokan amunisi TNI, sekaligus memutus rantai ketergantungan impor yang selama ini didominasi India dan Afrika Selatan.
Membangun Tulang Punggung Artileri Nasional: Spesifikasi Teknis dan Kapasitas Produksi
Kehadiran pabrik baru ini mengubah lanskap manufaktur amunisi dalam negeri. Dengan teknologi CNC lima sumbu dari Jerman, proses pemesinan komponen proyektil mencapai toleransi geometris ketat yang dibutuhkan untuk akurasi tembakan howitzer KH178 dan meriam kapal TNI AL. Sistem pengepresan bertekanan tinggi domestik memungkinkan pembentukan blank proyektil dengan efisiensi material tinggi, memperkuat ekosistem rekayasa lokal. Berikut spesifikasi utama fasilitas:
- Kapasitas produksi: 50.000 butir per bulan untuk kaliber 105 mm dan 155 mm.
- Teknologi utama: mesin CNC lima sumbu dari Jerman dan sistem pengepresan bertekanan tinggi domestik.
- Total investasi: Rp2,8 triliun dari APBN 2026 dan pinjaman lunak Bank Mandiri.
- Jadwal operasi: produksi dimulai pada 2027.
- Pengguna utama: TNI AD untuk howitzer KH178 dan TNI AL untuk meriam kapal.
Pembangunan fasilitas ini menjawab kebutuhan mendesak TNI akan kesinambungan logistik amunisi. Selama ini sebagian besar amunisi kaliber besar masih diimpor dari India dan Afrika Selatan, yang tidak hanya membebani biaya pengadaan tetapi juga menciptakan kerentanan rantai pasok di tengah dinamika geopolitik. Dengan produksi lokal, waktu pengadaan dapat dipersingkat dan ketersediaan stok amunisi lebih terjamin untuk kebutuhan operasional.
Dampak Strategis dan Outlook Teknologi Industri Pertahanan
Proyek ini menargetkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 70% pada 2029, sejalan dengan kebijakan presiden untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional. Penguasaan teknologi CNC lima sumbu dan pengepresan bertekanan tinggi diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan industri pendukung, mulai dari material baja khusus, bahan peledak, hingga sistem inspeksi non-destruktif. Efisiensi biaya produksi juga menjadi keunggulan utama: dengan memproduksi sendiri, biaya per butir amunisi diperkirakan turun 25% dibandingkan impor, membuka ruang fiskal bagi TNI untuk meningkatkan stok amunisi tanpa membebani anggaran secara signifikan.
Ke depan, pelaku industri pertahanan nasional perlu memperkuat kapabilitas riset material energetik, mengintegrasikan teknologi digital twin dan smart manufacturing dalam lini produksi, serta menjalin kolaborasi erat dengan institusi riset dan perguruan tinggi. Keberhasilan pabrik baru Pindad Amunisi di Cilegon akan menjadi prototipe ekosistem manufaktur amunisi modern yang mandiri, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan operasional TNI di era perang asimetris dan teknologi proyektil presisi.