Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan akselerasi program Litbang untuk mencapai integrasi teknologi komputasi dan material canggih dalam industri perkapalan nasional. Instruksi ini mengarah pada transformasi kapasitas galangan BUMN seperti PT PAL Indonesia dan PT Dok Kodja Bahari, serta galangan swasta nasional, untuk mengadopsi standar pembuatan kapal kelas internasional yang didorong oleh inovasi. Fokus utamanya adalah mengembangkan kemampuan desain berbasis Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk optimasi hidrodinamika, material komposit stealth untuk signature management, dan sistem propulsi Integrated Electric Drive untuk efisiensi dan redundansi daya.
Membangun Kemandirian Teknologi Kapal Pendukung Tempur
Akselerasi litbang ini secara strategis diarahkan untuk membangun kemandirian produksi kapal perang sekunder dan pendukung logistik. Targetnya meliputi penguasaan teknologi pembuatan kapal patroli cepat, kapal logistik strategis, dan kapal survei hidro-oseanografi. Dengan pendekatan ini, industri pertahanan maritim dalam negeri ditargetkan dapat memenuhi kebutuhan TNI AL untuk program strategic sealift dan sea basing. Teknologi kunci yang menjadi sasaran pengembangan meliputi:
- Sistem propulsi terintegrasi dengan efisiensi tinggi untuk jangkauan operasi yang lebih luas.
- Material komposit canggih untuk mengurangi signature radar dan meningkatkan ketahanan.
- Sensor dan sistem C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) yang dapat diintegrasikan pada platform kapal pendukung.
Optimasi Rantai Pasok dan Peningkatan Local Content
Investasi litbang yang terfokus diproyeksikan mampu meningkatkan local content hingga 70% untuk jenis kapal tertentu, seperti kapal patroli dan kapal logistik menengah. Peningkatan ini dicapai melalui pengembangan modul dan komponen utama secara mandiri, yang meliputi:
- Sistem kontrol dan navigasi berbasis teknologi lokal.
- Fabricasi struktur kapal dengan material baja khusus dan komposit dalam negeri.
- Pengembangan sistem pendukung logistik dan pemeliharaan (Integrated Logistics Support/ILS) yang terintegrasi.
Outlook teknologi untuk lima tahun ke depan menunjukkan bahwa keberhasilan program ini akan menggeser paradigma industri perkapalan nasional dari sekadar pembuat kapal menjadi pengembang teknologi maritim terintegrasi. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah membentuk konsorsium litbang antara BUMN, swasta, dan perguruan tinggi untuk mempercepat transfer teknologi dan standardisasi komponen. Selain itu, perlu dibangun pusat pengujian (test bed) teknologi maritim berskala nasional untuk memvalidasi desain dan kinerja sistem baru sebelum produksi massal. Langkah ini akan memastikan bahwa industri perkapalan nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga kompetitif di pasar maritim kawasan Indo-Pasifik yang dinamis.