Program pesawat tempur KF-21 Boramae untuk Indonesia secara resmi memasuki tahap pilot production pada varian dual-seat, menandai tonggak kritis dalam kemandirian industri dirgantara nasional. Dalam fase ini, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dipercaya memproduksi komponen utama berupa sayap dan fuselage belakang, yang merupakan elemen struktural vital bagi stabilitas aerodinamis pesawat. Pada 12 Agustus 2026, Korea Aerospace Industries (KAI) dan PTDI menandatangani addendum kerja sama yang memperluas partisipasi industri Indonesia dari 65% menjadi 75% dalam pengembangan varian dual-seat, mencakup alih teknologi sistem radar AESA dengan 1.200 T/R module serta integrasi data link Link-16 yang langsung terhubung dengan jaringan tempur TNI AU.
Eskalasi Partisipasi Industri: Dari 65% ke 75% dalam Pengembangan Varian Dual-Seat
Addendum kerja sama KAI dan PTDI tidak hanya meningkatkan porsi partisipasi Indonesia, tetapi juga mempercepat pembangunan fasilitas final assembly di Bandung yang dirancang untuk merakit hingga 50 unit pesawat tempur KF-21 yang telah dipesan TNI AU. Tahapan produksi ini mencakup:
- Peningkatan nilai konten lokal secara bertahap hingga 60% pada varian Indonesia, dengan target pesawat pertama selesai pada 2029.
- Integrasi sistem avionik dan persenjataan yang kompatibel dengan standar TNI AU, termasuk radar AESA dan electronic warfare suite.
- Pengembangan rantai pasok komponen dirgantara nasional melalui alih teknologi dari KAI ke PTDI dan subkontraktor lokal.
Langkah ini memungkinkan PTDI tidak hanya menjadi manufacturing partner, tetapi juga pusat perawatan dan modifikasi di masa depan, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri dirgantara.
Spesifikasi Teknis dan Integrasi Jaringan Tempur Generasi 4.5
Dari sisi teknis, varian Indonesia KF-21 Boramae mengadopsi radar AESA dengan 1.200 modul pemancar/penerima (T/R) yang memberikan kemampuan deteksi dan penjejakan multi-target pada jarak lebih dari 200 km. Sistem data link Link-16 memungkinkan pertukaran data taktis secara real-time dengan pesawat tempur lain, kapal permukaan, dan pusat komando TNI AU, menciptakan network-centric warfare yang tangguh. Fitur lainnya meliputi:
- Kemampuan supercruise terbatas dengan mesin General Electric F414-GE-400, menghasilkan kecepatan Mach 1.8 tanpa afterburner.
- Konfigurasi dual-seat untuk pelatihan dan misi khusus, dengan kursi belakang berperan sebagai weapon system officer.
- Komposit serat karbon pada struktur sayap dan fuselage untuk mengurangi bobot dan meningkatkan manuverabilitas.
Dengan kemampuan ini, KF-21 versi Indonesia melompatkan kemampuan industri dirgantara nasional ke level generasi 4.5, menjembatani kesenjangan menuju teknologi tempur siluman generasi ke-5.
Seiring dimulainya pilot production, para pemangku kepentingan industri dirgantara nasional perlu segera mempersiapkan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung untuk menyerap alih teknologi secara optimal. Keberhasilan program KF-21 tidak hanya akan memenuhi kebutuhan pertahanan TNI AU, tetapi juga membuka peluang ekspor komponen dan jasa MRO di pasar Asia-Pasifik. Ke depan, pengalaman dalam integrasi sistem AESA dan data link ini dapat menjadi fondasi bagi kolaborasi riset bersama KAI dalam pengembangan pesawat tempur siluman next-generation, memperkuat posisi Indonesia sebagai hub manufaktur dirgantara di kawasan.