PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi memulai penjajakan kerja sama strategis dengan Turkish Aerospace Industries (TAI) untuk memproduksi bersama drone tempur Anka-S di fasilitas manufaktur PTDI di Bandung. Langkah ini menandai akselerasi industri UAV nasional menuju kemandirian alutsista, dengan Anka-S yang merupakan kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE) — membawa spesifikasi teknis yang telah teruji di medan pertempuran. Dalam skema produksi bersama ini, Indonesia tidak hanya sekadar menjadi basis perakitan, tetapi juga memperoleh alih teknologi avionik dan propulsi yang menjadi fondasi pengembangan varian drone tempur lokal.
Spesifikasi Anka-S: Kapabilitas ISTAR dan Presisi MAM-L
Anka-S dirancang sebagai platform UAV MALE dengan daya jelajah operasional hingga 24 jam dan kapasitas muatan maksimal 250 kg. Sistem ini mampu mengemban misi Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (ISTAR) sekaligus menjadi platform serangan presisi melalui integrasi rudal MAM-L buatan Roketsan. Beberapa parameter teknis yang menjadi keunggulan utama Anka-S dalam skema produksi bersama di Indonesia mencakup:
- Endurance 24 jam — mendukung operasi pengawasan maritim dan perbatasan secara berkelanjutan.
- Muatan maksimal 250 kg — mampu membawa kombinasi sensor elektro-optik, SAR, dan persenjataan presisi.
- Integrasi rudal MAM-L — memberikan kapabilitas strike presisi dengan hulu ledak tinggi dan sistem seeker termal.
- Arsitektur avionik modern — memungkinkan komunikasi satelit (SATCOM) untuk kendali jarak jauh di luar garis pandang.
Negosiasi antara PTDI dan Turkish Aerospace mencakup transfer teknologi avionik dan mesin, sebuah lompatan signifikan dibandingkan skema pembelian off-the-shelf. Dengan transfer ini, PTDI dapat menguasai lapisan inti sistem kontrol penerbangan, data link, dan integrasi payload, yang menjadi prasyarat untuk mengembangkan varian lokal dengan kemampuan ISTAR yang disesuaikan dengan kebutuhan TNI AU dan medan operasi Nusantara. Target produksi awal ditetapkan sebanyak 12 unit per tahun, dengan alokasi utama untuk TNI AU serta potensi ekspor ke negara-negara non-blok.
Dampak Industri: Investasi USD 200 Juta dan Serapan 1.500 Tenaga Kerja
Proyek produksi bersama ini membutuhkan investasi awal sebesar USD 200 juta, yang akan dialokasikan untuk modernisasi lini produksi, fasilitas uji terbang, serta pengembangan rantai pasok komponen dirgantara lokal. PTDI memperkirakan proyek ini akan menyerap hingga 1.500 tenaga kerja lokal dengan kompetensi di bidang aerostruktur, avionik, dan sistem propulsi. Dari perspektif industri pertahanan nasional, kerja sama ini menciptakan efek berganda pada ekosistem UAV dalam negeri:
- Penguatan kapabilitas rekayasa dan desain — Indonesia mendapatkan akses pada dokumentasi teknis dan proses sertifikasi yang dimiliki Turkish Aerospace.
- Pengembangan supplier lokal — komponen seperti wing spar, fuselage panel, dan harness kabel dapat diproduksi oleh industri kecil menengah yang telah tersertifikasi.
- Kemandirian logistik alutsista — mengurangi ketergantungan pada pasokan suku cadang luar negeri untuk platform MALE.
- Platform ekspor strategis — Anka-S versi lokal dapat dipasarkan ke negara-negara yang memiliki kebutuhan ISTAR dan strike presisi dengan biaya operasional efisien.
Kehadiran Anka-S di lini produksi PTDI juga menjadi katalis bagi pengembangan varian drone tempur masa depan Indonesia. Dengan fondasi teknologi MALE yang telah matang, PTDI dapat mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk misi otonom, swarm capability, serta sensor modern yang selaras dengan tren peperangan generasi kelima. Sinergi antara PT Dirgantara Indonesia dan Turkish Aerospace ini bukan sekadar kontrak manufaktur, melainkan investasi strategis untuk mempercepat peta jalan kemandirian industri UAV nasional.
Ke depan, pelaku industri pertahanan nasional perlu memperkuat kapabilitas rekayasa sistem, pengujian, dan sertifikasi agar nilai tambah transfer teknologi dapat dimaksimalkan. Dengan menggabungkan pengalaman operasional Anka-S dan kebutuhan TNI AU yang spesifik, Indonesia berpotensi menjadi hub produksi drone tempur MALE di kawasan Asia Tenggara — sekaligus membangun fondasi teknologi untuk program UAV tempur indigenous berikutnya.