READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
STRATEGI KEMANDIRIAN TRENDING

PT Dok & Perkapalan Surabaya Target Produksi Perdana Torpedo Ringan pada 2027

PT Dok & Perkapalan Surabaya Target Produksi Perdana Torpedo Ringan pada 2027

PT Dok & Perkapalan Surabaya menargetkan produksi perdana torpedo ringan Gunung Sari 533 mm pada 2027, setelah pembangunan pabrik perakitan di Gresik rampung. Torpedo dengan spesifikasi teknis 45 knot, jangkauan 12 km, baterai lithium-ion lokal, dan homing system buatan P3TIR ini diyakini mampu menekan biaya impor hingga 40% serta mencapai TKDN 55% pada 2028. Proyek ini menjadi tonggak kemandirian alutsista TNI AL dan membuka peluang ekspor di kawasan.

PT Dok & Perkapalan Surabaya (DPS) resmi mengumumkan target produksi perdana torpedo ringan pada 2027, menandai langkah besar dalam program kemandirian alutsista TNI AL. Torpedo berkode 'Gunung Sari 533 mm' tersebut telah memasuki tahap akhir pengembangan dengan spesifikasi teknis yang mengadopsi standar NATO. Diameter 533 mm, panjang 2,8 meter, dan bobot 350 kilogram menjadikannya setara dengan kelas lightweight torpedo global. Dengan kecepatan maksimal 45 knot dan jarak jangkau efektif hingga 12 kilometer, torpedo ini dirancang untuk menghadapi ancaman kapal selam dan permukaan di perairan strategis Indonesia. Proyek ini didanai dari anggaran pengadaan alutsista 2025–2029 senilai Rp1,8 triliun, dengan dukungan alih teknologi dari Whitehead Alenia Sistemi Subacquei (WASS) Italia.

Spesifikasi Teknis dan Inovasi Propulsi Torpedo Gunung Sari 533 mm

Torpedo Gunung Sari 533 mm mengusung sejumlah teknologi mutakhir yang menjadikannya kompetitif di kelas ringan. Berikut rincian spesifikasi teknis utama:

  • Sistem Propulsi: Motor listrik brushless tanpa sikat yang ditenagai baterai lithium-ion berdensitas tinggi buatan anak usaha PT Len Industri. Sistem ini menjamin operasi hening (low acoustic signature) dan akselerasi responsif.
  • Homing System: Sonar aktif/pasif multifrekuensi dengan algoritma target tracking buatan Pusat Penelitian Teknologi Industri dan Pertahanan (P3TIR). Algoritma ini memungkinkan identifikasi dan pelacakan target secara adaptif dalam kondisi lingkungan akustik kompleks.
  • Dimensi dan Berat: Panjang 2,8 m, diameter 533 mm, berat 350 kg — ideal untuk peluncuran dari tabung torpedo kapal selam kelas Chang Bogo maupun triple-tube launcher di kapal permukaan.
  • Performa: Kecepatan maksimal 45 knot, jangkauan efektif 12 km, dengan kedalaman operasi hingga 300 meter.

Kerja sama teknis dengan WASS Italia mencakup alih teknologi sistem kontrol dan homing, memungkinkan DPS mempercepat kurva pembelajaran dan memastikan kesesuaian dengan standar interoperabilitas NATO. Baterai lithium-ion lokal tidak hanya menekan biaya produksi tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pemasok asing, sejalan dengan target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) 55% pada 2028.

Dampak Strategis dan Target Kemandirian Industri Pertahanan

Indonesia selama ini mengimpor 100% kebutuhan torpedo ringan, terutama dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Dengan produksi lokal di pabrik perakitan Gresik, Jawa Timur, biaya per unit torpedo diperkirakan turun hingga 40% dibandingkan impor. Efisiensi ini tidak hanya menghemat anggaran pertahanan tetapi juga membuka peluang ekspor ke negara-negara ASEAN dan Asia Pasifik yang membutuhkan torpedo ringan dengan harga kompetitif. Torpedo Gunung Sari 533 mm dirancang kompatibel dengan kapal selam kelas Chang Bogo (Type 209/1400) yang dioperasikan TNI AL, serta dapat diluncurkan dari kapal permukaan melalui sistem triple-tube launcher. Fleksibilitas ini memperluas spektrum penggunaannya dalam skenario peperangan anti-kapal selam (ASW) dan anti-permukaan (ASuW).

Dari perspektif kemandirian industri, proyek ini merupakan batu loncatan bagi pengembangan torpedo ukuran lebih besar (heavyweight) dan varian hulu ledak cerdas di masa depan. Keberhasilan produksi perdana pada 2027 akan membuktikan kemampuan PT Dok & Perkapalan Surabaya dalam mengintegrasikan teknologi alih dan inovasi dalam negeri. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah memperkuat kolaborasi dengan lembaga riset seperti P3TIR dan PT Len untuk memperdalam penguasaan komponen kritis, seperti sistem propulsi dan homing. Selain itu, perlu segera dibentuk konsorsium nasional untuk rantai pasok baterai lithium-ion dan sonar agar TKDN dapat melampaui target 55% pada tahun 2028 dan seterusnya. Dengan fondasi ini, Indonesia tidak hanya akan mandiri dalam torpedo ringan tetapi juga mampu bersaing di pasar alutsista global yang semakin kompetitif.

torpedo|kemandirian|PT Dok & Perkapalan
ENTITAS TERKAIT
Topik: torpedo ringan, produksi alutsista, industri pertahanan, TNI AL
Organisasi: PT Dok & Perkapalan Surabaya, TNI AL, PT Len, P3TIR, Whitehead Alenia Sistemi Subacquei
Lokasi: Gresik, Italia, Indonesia
ARTIKEL TERKAIT