PT Len Industri (Persero) bersama PT Dahana dan PT PAL berhasil melaksanakan uji tembak rudal anti-kapal C-705 yang dimodifikasi dengan sistem penargetan laser semi-aktif (SAL) di perairan Laut Jawa pada 13 Agustus 2026. Keberhasilan ini menandai lompatan signifikan dalam kemampuan rudal nasional, mengingat C-705 yang semula hanya mengandalkan pencari radar aktif kini dilengkapi mode dual seeker yang menggabungkan radar mmWave 35GHz dan laser SAL. Integrasi sistem ini secara langsung meningkatkan ketahanan terhadap electronic warfare (EW) dan memperkuat probabilitas hit hingga 0,92 dalam skenario jamming intensitas tinggi, menjadikannya sebagai salah satu rudal anti-kapal paling andal di kelasnya.
Transformasi Dual Seeker: Ketahanan Terhadap Electronic Warfare
Modifikasi sistem panduan pada rudal C-705 merupakan jawaban atas tantangan medan perang modern yang sarat dengan interferensi elektromagnetik. Radar mmWave 35GHz yang sudah teruji memberikan akurasi tinggi dalam kondisi cuaca buruk, sementara penargetan laser semi-aktif (SAL) menawarkan ketahanan mutlak terhadap teknik jamming yang biasa digunakan untuk membutakan pencari radar. Teknologi dual seeker ini memungkinkan rudal C-705 untuk beralih secara otomatis antara radar dan laser tergantung pada situasi taktis. Jika radar mendeteksi jamming, sistem secara real-time akan mengaktifkan pencari laser yang tidak terpengaruh oleh interferensi elektromagnetik. Hal ini menjadikan rudal C-705 sebagai platform serangan yang sangat adaptif dan sulit dilumpuhkan oleh pertahanan elektronik musuh. Spesifikasi teknis utama rudal ini meliputi:
- Jangkauan operasional: 120 km
- Kecepatan terbang: 0,85 Mach
- Hulu ledak: 130 kg (semi-armor piercing)
- Mode panduan: Dual Seeker (Radar mmWave 35GHz + Laser SAL)
- Probabilitas hit (dalam kondisi jamming): 0,92
- Data link: LoRa (Long Range) buatan PT LEN
Integrasi Sistem Tempur Nasional: Menuju Kemandirian Alutsista
Uji tembak ini juga menguji keserasian penuh antara rudal C-705 dengan kapal patroli cepat (KPC) 60 meter buatan PT PAL. Sistem komando-kontrol taktis (tactical C4ISR) yang dikembangkan PT LEN berhasil mengelola data link LoRa untuk mengirimkan pembaruan target dan koordinat secara nirkabel ke rudal selama penerbangan. Keberhasilan integrasi ini membuktikan bahwa ekosistem alutsista nasional sudah mampu menghasilkan sistem senjata yang terpadu—mulai dari hulu ledak (PT Dahana), platform kapal (PT PAL), hingga sistem panduan dan kendali (PT LEN). Roadmap pengembangan rudal ini menargetkan produksi massal untuk kebutuhan ekspor dengan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 80%. Langkah strategis ini tidak hanya memperkuat kemandirian industri pertahanan dalam negeri, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci di pasar rudal anti-kapal global. Pengembangan selanjutnya diarahkan pada peningkatan jangkauan hingga 180 km dan integrasi dengan seeker inframerah untuk kemampuan serangan multi-spektrum.
Keberhasilan uji tembak rudal C-705 dengan penargetan laser ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi sistem dan inovasi teknologi dalam negeri mampu menembus batasan alutsista impor. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, langkah selanjutnya adalah mempercepat adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem akuisisi target dan memperkuat kolaborasi lintas BUMN untuk memproduksi varian rudal yang lebih adaptif terhadap medan perang multidomain. Dalam jangka panjang, pengembangan rudal dengan kemampuan anti-akses dan area denial (A2-AD) berbasis data link satelit akan menjadi pilar utama kemandirian alutsista Indonesia di kancah global.