READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
OPTIMALISASI KEBUTUHAN TRENDING

PT PAL dan Naval Group Tandatangani Kontrak Akhir Kapal Selam Scorpene Evolved untuk TNI AL

PT PAL dan Naval Group Tandatangani Kontrak Akhir Kapal Selam Scorpene Evolved untuk TNI AL

PT PAL dan Naval Group menandatangani kontrak akhir senilai EUR 2,4 miliar untuk dua kapal selam Scorpene Evolved dengan Transfer of Technology penuh dan TKDN 45%. Kapal selam ini membawa spesifikasi tempur canggih seperti sistem sonar array, torpedo lokal, dan kedalaman operasi 350 meter. Proyek ini dijadwalkan rampung pada 2030-2032 dan diyakini menjadi katalis kemandirian industri pertahanan bawah air Indonesia.

Pada 13 Agustus 2026, PT PAL Indonesia (Persero) dan Naval Group secara resmi menandatangani kontrak akhir pengadaan dua unit kapal selam Scorpene Evolved untuk TNI AL, menandai lompatan strategis dalam modernisasi armada bawah air nasional. Kontrak senilai EUR 2,4 miliar ini tidak hanya mencakup pembangunan dua kapal selam konvensional tercanggih di kelasnya, tetapi juga mencakup skema Transfer of Technology (ToT) penuh yang akan berlangsung di galangan kapal PT PAL di Surabaya. Dengan spesifikasi teknis yang melampaui generasi sebelumnya, Scorpene Evolved dirancang untuk menghadapi tantangan peperangan bawah air abad ke-21, mulai dari kemampuan silent running hingga integrasi sistem tempur digital yang sepenuhnya modular.

Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Tempur Kapal Selam Scorpene Evolved

Dengan panjang 79,4 meter dan bobot selam mencapai 3.200 ton, Scorpene Evolved mampu beroperasi pada kedalaman maksimum 350 meter — memberikan perlindungan superior terhadap deteksi sonar lawan. Sistem propulsi diesel-elektrik yang dioptimalkan memungkinkan kecepatan maksimum 20 knot dalam mode selam, dengan daya tahan jelajah lebih dari 60 hari berkat kapasitas baterai lithium-ion generasi terbaru. Armada bawah air ini juga dibekali sistem sonar array luas (wide-aperture array) yang terintegrasi dengan suite perang elektronik, memungkinkan deteksi kontak hingga jarak ekstrem. Berikut spesifikasi kunci lainnya:

  • Persenjataan: 18 torpedo berat buatan PT Pindad (kaliber 533 mm) dan rudal anti-kapal Exocet SM39, semuanya dapat diluncurkan dalam mode salvo dari enam tabung torpedo haluan.
  • Sistem tempur: Arsitektur open-architecture yang kompatibel dengan sistem komando dan kontrol TNI AL, memungkinkan interoperabilitas dengan kapal permukaan dan pesawat patroli maritim.
  • Kemampuan siluman: Material anechoic coating generasi kelima dan sistem peredam getaran mekanis yang mengurangi jejak akustik hingga 30% dibandingkan kapal selam konvensional sejenis.
  • Logistik otonom: Sistem manajemen misi terintegrasi dengan kemampuan muatan kargo untuk mendukung operasi jangka panjang di area remote.

Dampak Strategis bagi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

Proyek ini bukan sekadar pengadaan alutsista, melainkan sebuah game changer dalam peta kemandirian industri pertahanan Indonesia. Dengan tingkat kandungan lokal (TKDN) minimal 45%, PT PAL akan melibatkan lebih dari 1.500 teknisi lokal dalam proses fabrikasi, perakitan, hingga integrasi sistem. Naval Group, sebagai mitra teknologi, akan mentransfer pengetahuan dalam pembuatan lambung tekanan tinggi, sistem propulsi listrik, serta integrasi sonar dan sistem tempur — yang semuanya merupakan teknologi yang paling ketat proteksinya di industri pertahanan global. Pengiriman kapal selam pertama dijadwalkan pada 2030 dan kapal kedua pada 2032, memberikan waktu yang cukup bagi ekosistem industri pertahanan dalam negeri untuk mencapai kapasitas produksi mandiri pada sub-sistem kritis. Keberhasilan proyek ini diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan kapal selam nasional generasi berikutnya tanpa ketergantungan pada lisensi asing.

Secara strategis, kehadiran dua kapal selam Scorpene Evolved akan memperkuat postur pertahanan maritim Indonesia di kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompetitif. Kemampuan jelajah otonom yang panjang dan muatan rudal yang presisi memberikan TNI AL kemampuan deterrence yang kredibel, terutama dalam mengamankan jalur perdagangan dan sumber daya bawah laut. Namun, yang lebih penting adalah efek pengganda (multiplier effect) pada ekosistem riset dan pengembangan (R&D) dalam negeri: mulai dari laboratorium material maritim di universitas hingga bengkel perawatan komponen elektronik di industri kecil menengah. Untuk memastikan keberlanjutan, para pemangku kepentingan industri pertahanan nasional disarankan untuk segera memulai program pengembangan SDM spesifik — termasuk insinyur sistem tempur dan teknisi sonar — serta membangun fasilitas uji komponen bawah air yang setara dengan standar NATO. Langkah ini akan memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi perakit, tetapi juga inovator teknologi kapal selam di kawasan Asia Tenggara pada dekade mendatang.

kapal selam|Scorpene Evolved|PT PAL|Naval Group|TNI AL
ENTITAS TERKAIT
Topik: Modernisasi kapal selam TNI AL, kontrak Scorpene Evolved
Organisasi: PT PAL Indonesia (Persero), Naval Group, TNI AL, PT Pindad
Lokasi: Surabaya
ARTIKEL TERKAIT