PT Pindad (Persero) secara resmi mengoperasikan fasilitas produksi amunisi kaliber besar di Turen, Malang, pada 11 Oktober 2026. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi hingga 50.000 butir amunisi 105 mm per tahun untuk mendukung Meriam KH-178 dan M101, serta lini produksi untuk amunisi 155 mm guna kebutuhan howitzer FH-88. Dengan investasi senilai Rp1,2 triliun, fasilitas ini menandai lompatan strategis dalam rantai pasok alutsista nasional dan memperkuat posisi Pindad sebagai tulang punggung kemandirian industri pertahanan Indonesia.
Presisi Tinggi: Lini CNC dan Sistem Inspeksi Non-Destruktif
Fasilitas produksi Turen mengusung lini otomatisasi berbasis Computer Numerical Control (CNC) yang dirancang untuk mencapai presisi tingkat militer dalam setiap proses manufaktur. Teknologi ini didukung oleh sistem inspeksi non-destruktif yang memungkinkan deteksi cacat material tanpa merusak komponen, sehingga menjamin konsistensi kualitas dan keselamatan operasional amunisi. Pendekatan ini menempatkan Pindad pada standar manufaktur yang selaras dengan praktik industri pertahanan global.
- Kapasitas produksi 50.000 butir amunisi 105 mm per tahun;
- Dukungan lini untuk kaliber 155 mm bagi howitzer FH-88;
- Sistem inspeksi non-destruktif untuk validasi integritas proyektil;
- Otomatisasi CNC untuk toleransi dimensi yang konsisten.
Target Kemandirian: Mengurangi Impor hingga 40% pada 2028
Direktur Utama Pindad, Sigit P. Santosa, menegaskan bahwa fasilitas ini akan mengurangi ketergantungan impor hingga 40% pada tahun 2028. Target tersebut sejalan dengan peta jalan kemandirian industri pertahanan yang dicanangkan Kementerian Pertahanan. Dengan memproduksi amunisi kaliber besar di dalam negeri, Indonesia tidak hanya menghemat devisa, tetapi juga memperkuat ketahanan logistik pertahanan di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Ketersediaan pasokan amunisi 105 mm dan 155 mm menjadi jaminan kesiapan operasional platform artileri yang telah berdinas. Kehadiran fasilitas ini mengurangi risiko gangguan rantai pasok global yang dapat memengaruhi kesiapan tempur. Dari perspektif industri, kapasitas produksi yang ada berpeluang ditingkatkan seiring dengan permintaan pasar ekspor dan pengembangan sistem persenjataan nasional.
Proyeksi Strategis untuk Ekosistem Pertahanan Nasional
Fasilitas ini juga membuka peluang bagi Pindad untuk memperdalam integrasi hulu-hilir, mulai dari penguasaan bahan baku hingga riset material propelan. Kolaborasi dengan lembaga riset dan perguruan tinggi dapat mempercepat pengembangan varian amunisi dengan kemampuan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan medan tempur modern. Dengan demikian, investasi di Turen bukan sekadar penambahan kapasitas, tetapi fondasi bagi ekosistem inovasi pertahanan yang berkelanjutan.
Bagi pelaku industri pertahanan nasional, langkah Pindad ini menjadi sinyal untuk membangun kemitraan strategis dalam penguasaan teknologi pendukung, seperti sistem propelan, hulu ledak, dan proses pengujian balistik. Penguatan tingkat komponen dalam negeri akan menjadi penentu keberlanjutan kemandirian industri pertahanan Indonesia. Ke depan, fasilitas ini diharapkan menjadi katalis untuk merealisasikan target kemandirian alutsista secara lebih luas dan berdaya saing global.