Pada 13 Agustus 2026, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) secara resmi meluncurkan prototipe pesawat nirawak tempur (UCAV) Elang Hitam versi bersenjata (armed) di fasilitas produksinya di Bandung. Varian ini menandai lompatan signifikan dari varian ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance) sebelumnya, dengan penambahan dua stasiun sayap (hardpoint) yang mampu membawa hingga 120 kg muatan tempur. Muatan tersebut mencakup rudal ringan TMM-40 hasil pengembangan PT Pindad dan bom berpemandu laser PBT-L1 buatan dalam negeri, menjadikan Elang Hitam Armed sebagai platform UCAV pertama buatan Indonesia yang mengintegrasikan persenjataan ofensif untuk misi serangan darat (ground attack).
Spesifikasi Teknis dan Kapasitas Muatan
Elang Hitam Armed ditenagai mesin turboprop yang menghasilkan kecepatan maksimal 430 km/jam dengan daya jelajah (endurance) hingga 12 jam saat membawa muatan penuh. Parameter ini menempatkannya dalam kelas medium-altitude long-endurance (MALE) yang setara dengan platform sejenis seperti Bayraktar TB2, namun dengan keunggulan biaya operasi yang diklaim 60% lebih hemat dibandingkan pesawat bersayap tetap berawak. Berikut rincian spesifikasi teknis utama:
- Muatan tempur: 120 kg pada dua hardpoint, mendukung rudal TMM-40 (berat ~40 kg, jangkauan 8 km) dan bom PBT-L1 (berat ~50 kg, panduan laser semi-aktif).
- Kecepatan: 430 km/jam (maksimum) pada ketinggian operasional 20.000 kaki.
- Endurance: 12 jam dengan muatan penuh, 24 jam dengan konfigurasi ringan (ISR murni).
- Dimensi: Rentang sayap 16 meter, panjang 9 meter, bobot maksimum lepas landas (MTOW) 1.500 kg.
- Sistem propulsi: Mesin turboprop asal Austria (Rotax 915 iS) yang dimodifikasi untuk performa tinggi di ketinggian.
Sistem Avionik dan Integrasi Kecerdasan Buatan
Keunggulan utama Elang Hitam Armed terletak pada integrasi sistem optronik EO/IR (electro-optical/infrared) yang dilengkapi laser rangefinder dan laser target designator. Sistem ini terhubung langsung ke ground control station (GCS) berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu melakukan deteksi target secara otomatis (automatic target recognition) dan pelacakan bergerak (moving target tracking). GCS tersebut juga mengelola data link satelit untuk komunikasi beyond line of sight (BLOS), memungkinkan operasi jarak jauh melampaui cakrawala. Kepala Program UCAV PTDI, dalam konferensi pers, menyatakan bahwa algoritma AI telah dilatih dengan ribuan citra satelit dan data intelijen untuk mengidentifikasi kendaraan tempur, posisi artileri, dan infrastruktur musuh dengan akurasi di atas 92%.
Uji terbang perdana (first flight) prototipe bersenjata direncanakan pada Desember 2026, setelah penyelesaian integrasi sistem senjata dan sertifikasi terbang oleh Kementerian Pertahanan. Target produksi massal ditetapkan pada 2028, dengan kapasitas awal 12 unit per tahun yang akan ditingkatkan secara bertahap. Ketua Dewan Eksekutif Industri Pertahanan menyatakan bahwa drone ini akan memperkuat pertahanan perbatasan dan operasi kontra-terorisme di wilayah timur Indonesia, menggantikan peran pesawat patroli yang lebih mahal dan berisiko tinggi bagi awak.
Dari perspektif industri pertahanan nasional, pengembangan Elang Hitam Armed menandai tonggak penting dalam kemandirian alutsista. PTDI, bersama PT Pindad dan sejumlah vendor lokal seperti PT LEN Industri (sistem komunikasi) dan PT Dirgantara Teknologi (sensor), telah membangun ekosistem rantai pasok yang mengurangi ketergantungan pada impor komponen kritis. Ke depan, adopsi teknologi AI dan material komposit generasi baru pada varian berikutnya diproyeksikan akan menurunkan biaya per unit hingga 15% dan meningkatkan endurance hingga 30 jam pada tahun 2030. Bagi pelaku industri pertahanan, langkah strategis berikutnya adalah mempercepat sertifikasi senjata dalam negeri (TMM-40 dan PBT-L1) serta membangun kerja sama transfer teknologi dengan negara mitra untuk meningkatkan daya saing ekspor UCAV buatan Indonesia di pasar global.