TNI Angkatan Udara menggelar roadmap teknologi drone tempur periode 2026-2035 yang menandai transisi strategis dari aset pengintaian (ISR) menuju sistem serang otonom. Peta jalan ini berfokus pada evolusi platform UAV seperti TAI Anka-S—dengan endurance 30 jam dan payload capacity 250 kg—menjadi unmanned combat aerial vehicles (UCAVs) yang terintegrasi penuh dalam jaringan tempur masa depan. Inisiatif ini menjadi landasan bagi implementasi teknologi otonomi dan artificial intelligence (AI) dalam doktrin operasi udara Indonesia.
Fase Pengembangan: Dari Sensor Fusion Hingga MUM-T
Roadmap tersebut terbagi dalam dua fase pengembangan teknis yang progresif. Fase pertama (2026-2029) berorientasi pada peningkatan kapabilitas sensor fusion dan produksi dalam negeri. Kolaborasi PT Dirgantara Indonesia dengan PT LEN Industries menargetkan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 55%, dengan fokus pada:
- Pengembangan dan produksi material komposit untuk airframe
- Integrasi multi-spectral targeting system (MTS), synthetic aperture radar (SAR), dan signals intelligence (SIGINT) payloads
- Pembuatan ground control station generasi baru dengan interoperabilitas data link yang lebih kuat
Lompatan Teknologi: Loyal Wingman dan AI-Based Engagement
Fase kedua (2030-2035) merupakan lompatan kuantum menuju konsep loyal wingman dan manned-unmanned teaming (MUM-T). Dalam fase ini, drone tempur akan beroperasi secara semi-otonom sebagai wingman bagi platform manned seperti Rafale dan KF-21. Teknologi kunci yang akan dikembangkan mencakup:
- Autonomous take-off and landing (ATOL) untuk meningkatkan responsivitas operasi
- AI-based target identification dan classification untuk mengurangi beban kognitif operator
- Cooperative engagement capability dengan pertukaran data real-time melalui tactical data links (Link 16/JREAP-C)
- Advanced mission planning algorithms untuk swarm tactics dan dynamic target allocation
Implementasi roadmap ini merepresentasikan transformasi mendasar dalam postur operasional TNI AU. Evolusi dari platform ISR seperti Anka-S menuju UCAVs dengan kemampuan teknologi otonomi akan menggeser paradigma dari intelligence-centric operations ke combat-centric operations. Kemampuan untuk melaksanakan strike missions dengan risiko zero-casualty pada personel, serta meningkatkan survivability platform manned melalui teaming, menjadi game-changer dalam kalkulus deterrence regional.
Outlook teknologi untuk industri pertahanan nasional menekankan pada percepatan penguasaan teknologi kritis: algoritma AI untuk C2 (Command and Control), secure data links dengan anti-jamming capability, dan produksi material komposit advanced. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri adalah membentuk konsorsium riset yang melibatkan BUMN pertahanan, universitas, dan startup teknologi untuk fokus pada pengembangan autonomous systems, serta memperkuat ekosistem testing and evaluation (T&E) untuk sistem udara tak berawak yang kompleks. Keberhasilan roadmap ini akan menempatkan Indonesia pada peta global pengembang drone tempur generasi masa depan.