PT Dirgantara Indonesia (PT DI) berhasil menyelesaikan uji tembak rudal anti-kapal C-705 versi modifikasi di Selat Madura, menandai lompatan signifikan dalam kapabilitas alutsista maritim nasional. Rudal C-705 yang dimodifikasi ini memiliki jangkauan diperpanjang hingga 150 km, meningkat dari versi standar 120 km, serta dilengkapi seeker radar inframerah ganda (Imaging Infrared/IIR) yang memberikan ketahanan lebih tinggi terhadap sistem countermeasure musuh. Uji coba ini menargetkan kapal bekas sebagai sasaran, dengan hasil deviasi circular error probable (CEP) kurang dari 2 meter, menunjukkan akurasi yang sangat tinggi.
Spesifikasi dan Inovasi Teknologi Rudal C-705
Proses modifikasi rudal C-705 ini merupakan hasil riset kolaboratif antara PT DI dan Institut Teknologi Bandung (ITB) selama dua tahun. Fokus utama pengembangan mencakup peningkatan propulsi dan sensor untuk memperluas jangkauan operasional serta meningkatkan daya tahan terhadap gangguan elektronik. Berikut adalah spesifikasi teknis utama rudal anti-kapal ini:
- Jangkauan: 150 km (versi modifikasi) dari sebelumnya 120 km.
- Sistem Pemandu: Seeker IIR dual-band yang tahan terhadap flare dan decoy.
- Tingkat Akurasi: CEP < 2 meter saat menghantam sasaran.
- Platform Target: Kapal cepat rudal (KCR) kelas Clurit dan kapal patroli cepat.
- Bobot Hulu Ledak: Diperkirakan sekitar 120 kg, cukup untuk melumpuhkan kapal perang ringan.
Dampak Strategis bagi Kemandirian Industri Pertahanan
Keberhasilan uji tembak rudal C-705 ini memperkuat posisi PT DI sebagai pemain kunci di pasar rudal anti-kapal ringan kawasan Asia Pasifik. Dengan kemampuan jangkauan dan akurasi yang ditingkatkan, rudal ini menjadi solusi alutsista yang kompetitif secara teknologi dan biaya. Integrasi rudal C-705 ke dalam KCR kelas Clurit akan meningkatkan daya gentar armada patroli TNI AL, terutama dalam operasi pengamanan perairan nusantara. Langkah ini sejalan dengan kebijakan kemandirian industri pertahanan nasional yang diatur dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
Dalam konteks persaingan global, rudal C-705 modifikasi menawarkan nilai tambah melalui penggunaan komponen lokal yang dikembangkan bersama ITB. Ini membuka peluang untuk program substitusi impor dan pengembangan ekosistem riset alutsista dalam negeri. Keandalan sistem IIR juga memberikan keunggulan taktis dalam skenario peperangan asimetris, di mana kemampuan untuk mengatasi countermeasure menjadi krusial. Kedepan, PT DI diharapkan dapat melanjutkan pengembangan varian dengan jangkauan lebih jauh atau kemampuan multi-platform, termasuk kemungkinan peluncuran dari pesawat atau kendaraan darat.
Outlook Teknologi: Keberhasilan uji tembak ini membuka jalan bagi optimalisasi rudal C-705 sebagai alutsista generasi baru yang adaptif terhadap teknologi perang modern. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan adalah mempercepat adopsi seeker AI-based untuk meningkatkan kemampuan pengenalan target otonom. Selain itu, perluasan kemitraan dengan institusi riset nasional seperti ITB harus terus didorong untuk menciptakan lini produk rudal yang lebih berdaya saing di pasar ekspor. Bagi PT DI, langkah berikutnya adalah memastikan produksi massal dengan biaya efisien serta integrasi seamless dengan sistem komando dan kontrol TNI AL.