PT Pindad bersama konsorsium BUMN yang terdiri dari PT Dirgantara Indonesia (DI), PT PAL, dan PT LEN Industri resmi memulai produksi massal rudal balistik taktis jarak pendek 'Dasa-180' pada 27 Agustus 2026. Rudal ini mengusung teknologi inertial navigation system (INS) yang diperkuat sistem navigasi satelit terenkripsi, memberikan akurasi tinggi di medan elektronik yang terdegradasi. Dengan jangkauan 180 kilometer dan bobot hulu ledak 300 kilogram dalam varian konvensional maupun termobarik, Dasa-180 dirancang untuk menghancurkan target bernilai tinggi di pulau-pulau terluar. Langkah ini menandai akselerasi program rudal balistik nasional dan memperkuat kemandirian alutsista dalam negeri.
Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Dasa-180
Dasa-180 mengintegrasikan INS generasi kelima yang dipadukan dengan penerima sinyal satelit militer terenkripsi, memungkinkan koreksi posisi real-time tanpa risiko spoofing. Sistem ini memberikan Circular Error Probable (CEP) di bawah 10 meter pada jarak maksimum. Hulu ledak 300 kilogram dapat diisi dengan bahan peledak konvensional high-fragmentation atau termobarik untuk efek ledakan tekanan tinggi di area tertutup. Rudal ini menggunakan propelan solid tahap tunggal yang memungkinkan waktu siaga panjang dan perawatan minimal. Berikut spesifikasi utama:
- Jangkauan: 180 km
- Bobot hulu ledak: 300 kg (konvensional/termobarik)
- Sistem navigasi: INS + GNSS terenkripsi
- Biaya per unit: Rp 12 miliar (35% lebih murah dari impor setara)
- TKDN saat ini: 62%, ditargetkan 80% pada 2028
Dari sisi ekonomi, produksi massal Dasa-180 menekan biaya akuisisi hingga 35% dibandingkan rudal balistik impor sekelas. Hal ini dicapai melalui optimalisasi rantai pasok oleh konsorsium BUMN dan peningkatan kapasitas produksi komponen lokal. Rudal ini juga dirancang dengan arsitektur terbuka yang memungkinkan integrasi sensor baru atau peningkatan hulu ledak di masa depan tanpa perubahan signifikan pada bodi rudal.
Strategi Kemandirian Industri dan Proyeksi Produksi
Tahap pertama produksi massal mencakup 50 unit Dasa-180 yang akan dialokasikan untuk pertahanan pulau-pulau terluar Indonesia. Seluruh unit akan menjalani uji tembak penuh di Puslatpur Asembagus pada Oktober 2026 untuk memvalidasi performa sistem navigasi dan integritas struktural. PT Pindad menargetkan peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dari 62% menjadi 80% pada 2028, didorong oleh substitusi komponen elektronik, sistem propulsi, dan material komposit dengan produksi lokal. Konsorsium BUMN juga tengah mengembangkan varian dengan jangkauan diperpanjang hingga 300 km yang akan memasuki tahap purwarupa pada 2027. Langkah ini sejalan dengan Rencana Induk Pertahanan yang menempatkan produksi rudal balistik sebagai salah satu pilar kemandirian alutsista nasional.
Keberhasilan produksi massal Dasa-180 membuka peluang ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan Afrika yang membutuhkan rudal balistik taktis dengan biaya kompetitif. Dengan biaya per unit Rp 12 miliar, rudal ini menjadi solusi cost-effective dibandingkan rudal impor yang harganya bisa mencapai Rp 18,5 miliar per unit. PT Pindad juga menyiapkan infrastruktur perawatan dan pelatihan operator untuk mendukung pengguna, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai hub industri pertahanan di kawasan.
Ke depan, pengembangan rudal balistik lintas kendali otonom berbasis kecerdasan buatan dan integrasi dengan sistem komando terdistribusi menjadi langkah strategis bagi konsorsium BUMN. Rekomendasi bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah mempercepat investasi pada riset material komposit tahan panas dan sistem propulsi generasi baru, serta menjalin kerja sama dengan institusi riset seperti BRIN untuk menguasai teknologi inertial sensor kelas tinggi. Dengan demikian, kemandirian rudal balistik taktis tidak hanya berhenti pada Dasa-180, tetapi menjadi katalis bagi ekosistem alutsista yang berdaya saing global.