TNI Angkatan Laut mengukuhkan kebutuhan strategis untuk dua unit kapal selam canggih berteknologi Air-Independent Propulsion (AIP) hibrida dan sistem penyimpanan energi lithium-sulfur generasi ketiga. Spesifikasi teknis yang ditetapkan mencakup displacement 2.100 ton, kedalaman operasional 350 meter, serta peningkatan kemampuan silent running dari 14 hari menjadi minimal 21 hari. Kapal selam baru ini juga akan diintegrasikan dengan sistem combat management buatan dalam negeri, menandai lompatan signifikan dalam kemandirian teknologi pertahanan maritim Indonesia.
Arsitektur Teknologi Hibrida dan Strategi Transfer Kunci
Strategi pengadaan kapal selam TNI AL mengadopsi pola hybrid futuristik, memadukan kolaborasi teknologi global dengan percepatan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Satu unit akan dikembangkan melalui kemitraan strategis, dengan opsi utama bersama Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Korea Selatan, sementara unit kedua ditargetkan dibangun di PT PAL Indonesia dengan TKDN minimal 45%. Teknologi inti yang menjadi fokus transfer mencakup:
- Modul AIP berbasis Proton Exchange Membrane (PEM) Fuel Cell dengan output 240 kW untuk daya tahan operasi diam yang diperpanjang.
- Sistem battery pack lithium-sulfur dengan energy density mencapai 500 Wh/kg, menawarkan peningkatan 60% dibanding teknologi lithium-ion konvensional dan mendukung lonjakan performa taktis.
Konvergensi Sensor Cerdas dan Operasi Bawah Laut Otonom
Berdasarkan analisis tren global oleh Ditjen Potensi Pertahanan Kemhan, spesifikasi kapal selam baru ini tidak hanya berfokus pada propulsi, tetapi juga pada peningkatan kapabilitas Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR). Platform ini dirancang sebagai pusat operasi bawah laut yang terhubung, dengan integrasi sistem sensor maju dan kendaraan tak berawak. Spesifikasi teknis yang diminta meliputi:
- Sensor pod optronik mast-mounted untuk pengintaian elektro-optis dan inframerah dengan akurasi tinggi.
- Kemampuan meluncurkan dan mengoperasikan Unmanned Underwater Vehicle (UUV) untuk misi reconnaissance dekat pantai yang berisiko rendah, memperluas jangkauan sensor dan daya huni kapal induk.
Dengan proyeksi anggaran program sebesar Rp 18 triliun yang diusulkan melalui skema multiyears appropriation mulai Tahun Anggaran 2027, program ini menempatkan kapal selam bukan hanya sebagai aset tempur, melainkan sebagai sistem pengumpul data strategis yang mampu beroperasi dalam jaringan tempur modern. Outlook teknologi untuk industri pertahanan nasional menekankan perlunya konsolidasi riset material baterai energi tinggi dan penguasaan integrasi sistem combat management untuk memastikan keberlanjutan program dan membuka peluang ekspor pada segmen kapal selam konvensional berukuran medium di kawasan.