READINESS
Perspektif Industri & Kemandirian Pertahanan
OPTIMALISASI KEBUTUHAN TRENDING

TNI AU Uji Coba Radar AESA Buatan Dalam Negeri untuk Sukhoi Su-35

TNI AU Uji Coba Radar AESA Buatan Dalam Negeri untuk Sukhoi Su-35

TNI AU menguji coba radar AESA buatan PT Len Industri (UGNX-5) pada Sukhoi Su-35, dengan kemampuan deteksi target siluman 200 km dan pelacakan 40 target simultan. Uji coba ini merupakan bagian dari program retrofit yang mengurangi ketergantungan pada impor suku cadang Rusia dan menghemat biaya hingga 60%. Keberhasilan program ini menjadi landasan kemandirian teknologi avionik nasional dan membuka potensi ekspor sistem radar buatan dalam negeri.

Pada 13 Agustus 2026, TNI Angkatan Udara (TNI AU) memulai babak baru dalam modernisasi alutsista dengan menguji coba radar AESA (Active Electronically Scanned Array) buatan PT Len Industri, tipe UGNX-5, yang dipasang pada pesawat tempur Sukhoi Su-35 di Lanud Iswahjudi. Radar array planar ini mengintegrasikan 1.500 modul Transmit-Receive (TR) dengan kemampuan deteksi target siluman pada jarak 200 kilometer — sebuah lompatan signifikan dalam kemampuan sensor udara. Dengan kemampuan melacak 40 target secara simultan, ditambah fitur cross-scanning dan electronic warfare terintegrasi, sistem ini menempatkan Su-35 pada level avionik yang setara dengan generasi 4,5. Uji coba ini merupakan tonggak penting dalam program peningkatan kemandirian teknologi avionik nasional, sekaligus langkah strategis mengurangi ketergantungan pada suku cadang dan sistem dari Rusia.

Spesifikasi Teknis Radar AESA UGNX-5: Daya Deteksi dan Multifungsi

Radar UGNX-5 milik PT Len Industri dirancang dengan arsitektur modular yang memungkinkan fleksibilitas tinggi dalam pemeliharaan dan peningkatan kemampuan. Berikut adalah rincian spesifikasi utama yang diuji dalam sesi ini:

  • Modul TR: 1.500 unit dengan teknologi gallium nitride (GaN) yang memberikan efisiensi daya tinggi dan manajemen termal optimal.
  • Jarak deteksi: Mampu mendeteksi target siluman (RCS kecil) pada jarak 200 km, dan target non-siluman hingga 350 km.
  • Pelacakan simultan: Melacak 40 target udara secara bersamaan dengan pembaruan track rate tinggi, memungkinkan keterlibatan BVR (Beyond Visual Range) multi-target.
  • Mode operasi: Cross-scanning untuk menutupi area blind spot, Synthetic Aperture Radar (SAR) untuk pemetaan darat, dan Electronic Support Measures (ESM) terintegrasi.
  • Kemampuan Electronic Warfare: Termasuk jamming adaptif dan deception, meningkatkan survivability Su-35 di lingkungan peperangan elektronik modern.

Dengan bobot lebih ringan 15% dibandingkan radar asli Su-35, serta konsumsi daya yang lebih efisien, UGNX-5 tidak memerlukan modifikasi besar pada sistem kelistrikan dan struktur pesawat. Hal ini memudahkan proses retrofit pada seluruh armada.

Implikasi Strategis: Menuju Kemandirian Avionik Nasional

Keberhasilan uji coba radar AESA dalam negeri pada Sukhoi Su-35 membawa dampak multidimensi bagi industri pertahanan Indonesia. Pertama, program ini secara langsung memangkas biaya pengadaan — dengan estimasi biaya retrofit 60% lebih murah dibandingkan impor sistem serupa dari luar negeri. Penghematan ini dapat dialokasikan untuk pengembangan radar varian lain, misalnya untuk pesawat tempur ringan atau UAV. Kedua, penggunaan teknologi dalam negeri memperluas basis data logistik dan pemeliharaan, sehingga TNI AU tidak lagi bergantung pada rantai pasok Rusia yang rentan terhadap sanksi geopolitik.

Jika uji coba fase pertama selesai dengan hasil memuaskan, rencana retrofit penuh pada seluruh armada Su-35 akan dimulai pada kuartal I-2027. Transformasi avionik ini juga membuka peluang bagi PT Len Industri untuk menawarkan solusi radar AESA pada platform tempur lain di Indonesia, seperti F-16 dan Hawk, serta potensi ekspor ke negara mitra. Integrasi radar buatan dalam negeri ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memproduksi sistem sensor canggih berstandar internasional, sejalan dengan target kemandirian alutsista yang dicanangkan dalam Rencana Induk Pertahanan 2025-2045.

Outlook teknologi ke depan, keberhasilan program radar AESA nasional ini harus diikuti dengan investasi pada pengembangan software-defined radar dan kecerdasan buatan (AI) untuk analisis data secara real-time. Kolaborasi antara PT Len, PT Dirgantara Indonesia, dan universitas riset sangat krusial untuk menciptakan ekosistem riset dan produksi yang berkelanjutan. Bagi pelaku industri pertahanan, langkah ini adalah momentum untuk mempercepat substitusi impor di segmen avionik dan sensor, serta membangun lini produksi modul TR sendiri — sebuah langkah strategis menuju Indonesia sebagai pemain utama di kawasan dalam teknologi radar AESA.

radar AESA|Sukhoi Su-35|TNI AU|teknologi dalam negeri
ENTITAS TERKAIT
Topik: uji coba radar AESA, TNI AU, Sukhoi Su-35
Organisasi: TNI Angkatan Udara, PT Len Industri
Lokasi: Lanud Iswahjudi
ARTIKEL TERKAIT