Kementerian Pertahanan (Kemenhan) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) resmi mengumumkan percepatan produksi massal rudal anti-kapal C-705 versi lokal, yang dikenal dengan kode RAN-705, di fasilitas PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada 16 Oktober 2026. Rudal ini dirancang dengan jangkauan tempur 130 kilometer, kecepatan jelajah Mach 0,85, serta hulu ledak fragmentasi seberat 110 kilogram — menjadikannya aset vital bagi TNI AL dalam menguasai gelombang perairan Nusantara. Keunggulan utama RAN-705 terletak pada sistem navigasi inersial yang dipadukan dengan pencari radar aktif (active radar seeker) buatan LEN Industri yang telah lolos uji anti-jamming pada 2025. Ini adalah lompatan signifikan dalam transformasi alutsista dalam negeri, sekaligus sinyal kuat bagi industri pertahanan nasional untuk bergerak menuju kemandirian teknologi.
Spesifikasi Teknis dan Kapabilitas RAN-705 dalam Misi Anti-Akses
RAN-705 bukan sekadar replika rudal anti-kapal C-705, melainkan hasil rekayasa ulang dengan kandungan lokal yang meningkat secara substansial. Dari perspektif teknik, rudal ini mengusung profil penerbangan sea-skimming yang memungkinkan terbang rendah di atas permukaan laut untuk menghindari deteksi radar musuh, kemudian bermanuver terminal dengan pola zig-zag untuk menembus pertahanan titik. Berikut adalah spesifikasi kunci yang diunggulkan dari program ini:
- Jangkauan efektif: 130 km, memberikan kemampuan stand-off strike yang memadai bagi korvet kelas Diponegoro dalam skenario peperangan anti-kapal permukaan.
- Kecepatan jelajah: Mach 0,85, dikombinasikan dengan akselerasi terminal yang tinggi untuk menekan waktu respons sistem pertahanan lawan.
- Hulu ledak fragmentasi: 110 kg, dioptimalkan untuk menembus lambung kapal perusak atau fregat berukuran menengah.
- Pencari radar aktif: Dikembangkan oleh LEN Industri, memiliki ketahanan terhadap jamming elektronik dan mampu mengunci target secara mandiri setelah fase peluncuran.
- Sistem navigasi: INS (Inertial Navigation System) terintegrasi dengan GPS anti-spoofing untuk akurasi presisi pada kondisi lingkungan elektronik yang keras.
Kombinasi teknologi ini menempatkan RAN-705 pada kelas setara rudal anti-kapal generasi keempat seperti Exocet MM40 Block 3 atau Harpoon Block II, namun dengan keunggulan lokal yang lebih adaptif terhadap spektrum ancaman di kawasan Indo-Pasifik.
Strategi Produksi Massal dan Dampaknya terhadap Kemandirian Industri Pertahanan
Program produksi massal ini dipatok dengan target awal 48 unit untuk memenuhi kebutuhan upgrade tiga kapal korvet kelas Diponegoro TNI AL. Langkah ini diproyeksikan mampu memangkas ketergantungan pada rudal impor hingga 40% pada tahun 2028 — sebuah capaian yang akan mengubah anatomi rantai pasok alutsista nasional. Dukungan penuh datang dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang telah mengalokasikan anggaran khusus untuk sertifikasi kelaikan terbang rudal, yang menjadi prasyarat mutlak sebelum masuk ke pangsa operasional TNI AL.
Direktorat Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AL juga dilibatkan dalam proses sertifikasi untuk memastikan aspek keamanan dan keselamatan penerbangan rudal memenuhi standar militer ketat. Adapun tahapan produksi yang berjalan di PTDI mencakupi proses fabrikasi airframe, integrasi avionik, dan uji statik serta uji terbang berjenjang.
Dengan percepatan ini, BPPT menegaskan bahwa ekosistem industri pertahanan dalam negeri telah mencapai titik jenuh untuk memproduksi rudal secara mandiri, sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara sahabat di kawasan Asia Tenggara dan Afrika. Keberhasilan program RAN-705 juga akan menjadi fondasi bagi pengembangan varian rudal anti-kapal dengan jangkauan yang lebih jauh, seperti C-802 atau bahkan kelas supersonik, yang diyakini tengah dalam kajian awal oleh konsorsium BPPT-LEN-PTDI.
Outlook teknologi: Ke depan, industri pertahanan nasional perlu fokus pada peningkatan kapasitas produksi seeker radar pada frekuensi gelombang milimeter, serta investasi dalam material komposit yang lebih ringan untuk memperpanjang jangkauan rudal. Kolaborasi triple-helix antara government, industri, dan lembaga riset harus terus diperkuat untuk mempercepat serapan inovasi. Jika tren ini berlanjut, Indonesia berpeluang menjadi salah satu eksportir utama rudal anti-kapal di kawasan pada dekade berikutnya — sebuah lompatan dari sekadar pembeli menjadi penguasa teknologi.