TNI AL resmi menggelar uji coba integrasi sistem tempur bawah air yang mempertemukan kapal selam KRI Cakra-401 kelas Chang Bogo dengan torpedo ringan lokal SUT-3 produksi PT PAL di perairan Selat Sunda pada 15 Oktober 2026. Uji coba ini bukan sekadar demonstrasi menembak, melainkan langkah strategis untuk memutus ketergantungan pada platform persenjataan asing. Torpedo SUT-3 mengandalkan sistem homing akustik dual-mode, aktif dan pasif, dengan kecepatan maksimal 40 knot dan jangkauan operasional 15 kilometer. Secara teknis, integrasi ini menuntut penyelarasan antarmuka antara sistem kontrol tembak kapal selam dengan logika penjejak torpedo, sebuah proses yang sebelumnya sering menjadi hambatan dalam program kemandirian alutsista dalam negeri.
Arsitektur Integrasi dan Kompatibilitas Sonar Thales
Proses integrasi pada kapal selam Chang Bogo ini melibatkan pembaruan menyeluruh pada fire control system dengan interface digital yang dirancang kompatibel terhadap sonar Thales. Pembaruan ini menjadi kunci karena memungkinkan KRI Cakra-401 mengolah data target dari sonar dan mengirimkan solusi tembak ke torpedo lokal tanpa mengorbankan stabilitas sistem asli. TNI AL menegaskan bahwa keberhasilan uji coba ini menandai langkah pertama menuju kemampuan kapal selam dalam meluncurkan torpedo produksi dalam negeri tanpa merusak interface asli, sekaligus membuktikan bahwa teknologi lokal mampu berdialog dengan sistem tempur generasi sebelumnya. Adapun spesifikasi teknis torpedo SUT-3 yang diuji meliputi:
- Kecepatan maksimal 40 knot.
- Jangkauan operasional 15 kilometer.
- Sistem homing akustik dual-mode aktif dan pasif.
- Interface digital yang kompatibel dengan sonar Thales dan tidak merusak interface asli kapal selam.
Roadmap Kemandirian 70 Persen dan Kapasitas Produksi PT PAL
Keberhasilan integrasi ini memiliki dimensi industrial yang lebih luas. PT PAL menargetkan produksi 20 unit torpedo SUT-3 per tahun untuk memenuhi kebutuhan tiga kapal selam yang tengah aktif, termasuk kapal selam Chang Bogo yang kini menjadi platform uji utama. Kapasitas produksi tersebut akan menjadi tulang punggung bagi TNI AL dalam membangun stok munisi bawah air yang tidak lagi bergantung pada kontrak luar negeri. Program integrasi ini merupakan bagian dari roadmap TNI AL untuk mencapai tingkat kemandirian sistem senjata bawah air sebesar 70 persen pada 2030, sebuah target yang menuntut konsistensi antara pengadaan, riset, dan transfer pengetahuan di dalam negeri.
Outlook ke depan, keberhasilan uji coba ini menjadi blueprint bagi program revitalisasi kapal selam dan torpedo lain di jajaran TNI AL. Bagi pelaku industri pertahanan nasional, momentum ini harus dijawab dengan percepatan penguatan rantai pasok komponen elektronik, propulsi, dan akustik sensor agar produksi torpedo tidak lagi bergantung pada komponen impor. Kolaborasi antara TNI AL, PT PAL, dan ekosistem riset nasional perlu terus diperdalam untuk menjadikan integrasi sistem tempur bawah air sebagai kompetensi inti yang berkelanjutan.