PT LEN Industri berhasil menuntaskan integrasi radar AESA (Active Electronically Scanned Array) buatan dalam negeri ke dalam sistem komando dan kontrol pertahanan udara (KODAMA) TNI AU pada 22 September 2026. Radar AESA-LEN 4D ini menjadi tonggak strategis modernisasi alutsista nasional dengan kemampuan mendeteksi target siluman (stealth) ber-RCS 0,01 m² pada jarak 350 km, serta melacak 400 target simultan dengan refresh rate 0,02 detik. Keamanan Integrasi menjadi pilar utama dalam proyek ini: data dari satelit LAPAN-A9, stasiun radar lapangan, dan data link TNI disinkronkan secara real-time untuk membangun picture udara yang koheren. Sistem ini secara langsung menggantikan radar impor asal Eropa, menekan biaya lisensi tahunan hingga 60%, sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.
Spesifikasi Teknis dan Kapabilitas Adaptif Radar AESA-LEN 4D
Radar AESA-LEN 4D mengadopsi arsitektur solid-state dengan frekuensi operasi X-band (8–12 GHz) dan daya pancar puncak 25 kW, memberikan resolusi deteksi tinggi dalam segala cuaca. Riset Inovasi yang mendalam memungkinkan radar ini dilengkapi counter-countermeasures elektronik (ECCM) adaptif, yang secara otomatis menyesuaikan bentuk gelombang untuk menetralisasi jamming musuh. Berikut spesifikasi kunci yang mendasari keunggulan sistem:
- Frekuensi operasi X-band (8–12 GHz) untuk resolusi target tinggi.
- Daya pancar puncak 25 kW dengan siklus kerja 30%.
- Deteksi target RCS 0,01 m² pada jarak 350 km.
- Tracking 400 target simultan dengan refresh rate 0,02 detik.
- Integrasi multi-sensor via data link TNI dan satelit LAPAN-A9.
- ECCM adaptif berbasis kecerdasan buatan tingkat awal.
Dengan spesifikasi ini, AESA-LEN 4D tidak hanya unggul dalam deteksi stealth, tetapi juga mampu beroperasi dalam lingkungan elektronik yang padat. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi riset antara LEN Industri, BPPT, dan TNI AU yang berlangsung sejak 2021, menandai keberhasilan substitusi impor di sektor radar pertahanan. Kehandalan sistem telah teruji dalam skenario latihan bersama, dengan akurasi pelacakan di atas 95% untuk drone dan pesawat tempur siluman.
Dampak Strategis terhadap MEF Tahap IV dan Optimalisasi Kebutuhan
Keberhasilan integrasi ini menjadi pilar utama program Minimum Essential Force (MEF) tahap IV, yang menargetkan jangkauan deteksi penuh di seluruh wilayah NKRI pada 2029. Optimalisasi Kebutuhan diwujudkan melalui penggantian radar impor yang mahal dan bergantung pada lisensi asing, sehingga mengurangi biaya perawatan jangka panjang sekaligus meningkatkan kedaulatan data. Sistem AESA-LEN 4D telah diuji coba dalam skenario latihan bersama dengan deteksi drone dan pesawat tempur siluman, menunjukkan akurasi pelacakan di atas 95%. Ke depannya, sistem ini akan diintegrasikan dengan rudal permukaan-ke-udara dalam negeri untuk membentuk layered air defence yang otonom.
Dampak Strategis terhadap MEF Tahap IV dan Optimalisasi Kebutuhan
Keberhasilan integrasi ini menjadi pilar utama program Minimum Essential Force (MEF) tahap IV, yang menargetkan jangkauan deteksi penuh di seluruh wilayah NKRI pada 2029. Optimalisasi Kebutuhan diwujudkan melalui penggantian radar impor yang mahal dan bergantung pada lisensi asing, sehingga mengurangi biaya perawatan jangka panjang sekaligus meningkatkan kedaulatan data. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi riset antara LEN Industri, BPPT, dan TNI AU yang berlangsung sejak 2021, menandai keberhasilan substitusi impor di sektor radar pertahanan. Kehandalan sistem telah teruji dalam skenario latihan bersama, dengan akurasi pelacakan di atas 95% untuk drone dan pesawat tempur siluman.
Ke depan, keberhasilan AESA-LEN 4D membuka jalan bagi pengembangan radar AESA generasi berikutnya yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dan machine learning untuk deteksi pola ancaman hipersonik dan swarming drone. Rekomendasi strategis bagi pelaku industri pertahanan nasional adalah mempercepat investasi pada fabrikasi modul TR (Transmit/Receive) GaN dalam negeri, serta memperkuat ekosistem riset antara BUMN pertahanan, perguruan tinggi, dan startup teknologi militer. Langkah ini akan memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen solusi radar AESA global yang kompetitif dalam dekade mendatang.